JAKARTA - Tindakan tembak mati teroris saat penggerebekan oleh Densus 88 Antiteror dinilai tepat karena berdasarkan berbagai perhitungan. Salah satunya, masalah biaya 'memelihara' teroris jika ditangkap hidup-hidup.
Demikian dikatakan pengamat teroris Mardigu saat dihubungi okezone, Rabu (14/10/2009).
"Prioritas pertama memang tembak mati. Tapi ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka mati, saat penggerebekan pasti ada self defence dari mereka dan petugas harus safety first. Yang paling aman adalah membunuh orang itu," jelasnya.
Dia menambahkan, selain perlawanan diri, tindakan menembak mati teroris karena jika ditangkap hidup-hidup akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi.
"Biaya memelihara mereka lebih mahal, karena mereka bisa merekrut lagi, menarik simpati dan menimbulkan semangat 'patriotisme'," tandasnya.
Dia mengambil contoh penahanan hingga eksekusi mati Amrozi cs. Kala itu keputusan eksekusi mati menjadi kontroversi di kalangan masyarakat dan malah membuat banyak orang simpati hingga menimbulkan semangat untuk melakukan tindakan yang sama seperti Amrozi cs.
"Padahal mereka cuma tiga orang tapi sudah menewaskan ratusan orang, dan ini malah menjadi contoh baik. Inferior syndrome cenderung underdog bisa menjadi simpati," tuturnya.
Konsekuensi tidak mendapat info mendalam karena pelaku teroris telah mati, menurutnya tidak sebanding.
"Saya kira informasi dari data-data di laptop Noordin itu sudah 70 persen membantu. Tapi itu hanya dari sisi grup Noordin saja, tidak tahu kalau ada grup lain," pungkasnya.
(Lusi Catur Mahgriefie)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.