tragedi sukhoi

NEWS » Fokus

Kekuatan Parlemen Online

Minggu, 8 November 2009 13:18 wib

Saat reformasi, kelompok masyarakat kelas menengah progresif lebih memilih turun ke jalan menggelar parlemen jalanan. Kini dukungan kelas menengah menjadi gerakan parlemen online.

Ketika reformasi bergulir pada 1998, masyarakat dan kelas menengah progresif (mahasiswa) menjadi sebuah kekuatan yang mampu menumbangkan rezim penguasa. Saat itu mahasiswa dan masyarakat memilih turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya.

Banyak kalangan menyebut aksi mereka sebagai parlemen jalanan mengingat parlemen legal (DPR) saat itu dinilai tak mampu menyuarakan aspirasi rakyat yang menuntut perubahan. Saat itu memang ada gesekan demokratisasi yang tengah mencari arah. Mahasiswa sebagai kelompok kelas menengah progresif memilih keluar terlebih dahulu dari kotak kenikmatannya selama Orde Baru.

Mereka seraya melakukan "investasi politik", yang hasilnya dinikmati di masa datang. Sementara kalau bertahan di kotak, hanya menjadi "konsumsi politik" yang akan lindap.

Jika saat itu banyak kelas menengah memilih turun ke jalan, maka akan berbeda situasinya dengan sekarang. Kini muncul pemikiran dan kesadaran kelompok masyarakat kelas menengah, khususnya di perkotaan dalam menyuarakan aspirasinya terhadap suatu isu. Sementara teori gerakan menyatakan harus terjadi efek bola salju. Kelas menengah sebagai poros perubahan secara sadar dilanda keterbatasan ruang dan waktu sehingga irisannya adalah silaturahmi interaktif dengan media internet.

Saat ini internet telah menjadi alat masyarakat untuk berkomunikasi secara efektif, efisien, dan ekonomis. Jauh lebih filosofis dari itu semua adalah keinginan dari para kaum pandai untuk berinteraksi dengan komunitasnya. Kelas menengah juga mulai menyadari bahwa kunci sukses rasionalitas politik ekonomi bangsa adalah meratanya penyebaran informasi publik menuju terciptanya komunitas informasi masyarakat yang sehat dan dewasa.

Dengan akses informasi yang cukup, masyarakat dapat memutuskan untuk berpikir mengikuti, mengabaikan yang remeh temeh, atau juga meluruskan yang bengkok. Hal inilah yang kini terjadi pada dukungan terhadap dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.

Di mana dua tokoh KPK itu tak hanya mendapat dukungan moril dari aksi-aksi masyarakat di dunia nyata,tetapi juga di dunia maya. Lewat jejaring sosial Facebook misalnya, kelompok masyarakat kelas menengah memberikan dukungannya. Artinya, dukungan terhadap Bibit-Chandar tidak hanya di jalanan yang dilakukan masyarakat lewat parlemen jalanan, tetapi juga dilakukan kelompok masyarakat di dunia maya lewat parlemen online.

Para pemakai internet rata-rata masyarakat kelas menengah kota seperti pelajar, mahasiswa, dan pemuda terdidik lainnya. Mereka memiliki cara berpikir yang relatif bersih dari kontaminasi berbagai kepentingan. Tak heran suara mereka dalam dunia maya sangat jernih. Ini bisa kita cermati dalam tema-tema diskusi yang muncul.

Sebagai catatan, berdasarkan data Checkfacebook, situs yang mengamati perkembangan pengguna jejaring sosial Facebook, pada awal November 2009, pengguna Facebook asal Indonesia mencapai angka 11.759.980. Jumlah ini menempati peringkat ketujuh besar pengguna Facebook di dunia.

Dunia maya memang dunia yang sunyi. Orang beraktivitas di belakang layar komputer, laptop, atau belakangan ini ponsel Blackberry. Sunyi, tetapi punya daya tekan yang luar biasa. Ya, internet adalah dunia sunyi yang bisa menjadi sebuah kekuatan perubahan.

Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana seorang Prita Mulyasari, yang menulis protes pelayanan publik RS Omni International di sebuah e-mail yang disebar melalui jejaring sosial Facebook, akhirnya membuat "sibuk" pihak yudikatif. Aparat penegak hukum dinilai sewenang-wenang dan berlebihan menyikapi sebuah kritik seorang ibu (Prita).

Saat kasus Prita mencuat, para netters (sebutan untuk pelaku internet) menggalang dukungan, dan solidaritas itu terbangun dengan cepat. Melalui jejaring sosial Facebook lantas dibuat sebuah grup yang menggalang solidaritas kepedulian pada kasus Prita. Aksi itu akhirnya membentuk opini dan menjadi kelompok penekan yang efektif.

Prita pun bebas dari bui. Dukungan yang dilakukan kelas menengah terhadap sebuah isu --tanpa meminggirkan dukungan masyarakat biasa menunjukkan bahwa di manapun di dunia, kelas menengah merupakan kekuatan moral yang tangguh dan pasti mampu menggerakkan dan memberi warna masyarakat sipil (civil society).

Sejak memasuki era reformasi terjadi daya gerakan kemanusiaan, gerakan antiotoriterisme, gerakan memberdayakan wacana masyarakat sipil yang makin bermoral di mana kepeloporan gerakan tersebut berada di tangan kelas menengah dengan kesadaran yang jujur (etis) dan bukan mencari popularitas yang sifatnya sesaat.

Dukungan terhadap Bibit-Chandra yang kini terus bergulir membuktikan bahwa peranan kelas menengah sebagai penjaga demokrasi dan nilai-nilai moral (custodian of democracy and moral values) dalam masyarakat makin mencuat dan tetap eksis sebagai kekuatan moral. Kekuatan kontrol masyarakat saat ini membawa angin segar dalam wacana demokrasi.

Kekuatan moral (moral force). Kelompok masyarakat kini sudah menjadi satu kekuatan. Meski tidak menjadi organisasi terstruktur, kekuatan nonfisik ini memberi tekanan.
(Koran SI/Koran SI/jri)