tragedi sukhoi

"Kalau Mau Dihormati Jangan Pakai Kekerasan"

Muhammad Saifullah - Okezone
Rabu, 11 November 2009 12:21 wib
Salah satu sudut di SMAN 82, Jakarta (Foto: kaskus)
Salah satu sudut di SMAN 82, Jakarta (Foto: kaskus)

JAKARTA - Argumentasi pemberian hak-hak istimewa terhadap siswa kelas III di sejumlah sekolah tingkat menengah dan atas dengan dalih memberikan penghormatan kepada senior, merupakan tindakan salah kaprah.

Apabila siswa kelas III ingin dihormati para adik kelasnya, maka melakukan aksi kekerasan bukanlah solusi yang tepat.

"Kalau mau dihormati bukan dengan cara-cara seperti itu. Tapi dengan cara yang lebih beradab dan memiliki nuansa pendidikan," ujar pakar pendidikan Arif Rahman saat berbincang dengan okezone di Jakarta, Rabu 11 November.

Menurut Arif, tradisi kekerasan tidak terjadi di setiap sekolah. Banyak juga sekolah yang tidak memiliki tradisi penghormatan berlebih kepada siswa kelas III. Semua siswa diperlakukan setara. "Hal-hal semacam itu tidak terjadi di seluruh sekolah. Jadi itu disebabkan karena budaya sekolah di tempat-tempat tertentu saja," terang dia.

Musibah yang menimpa Ade Fauzan Mahfuza pada Selasa 3 November lalu, kembali mencoreng citra dunia pendidikan. Siswa kelas X-2 SMAN 82 itu babak belur setelah dianiaya para seniornya sendiri. Penyebabnya sepele, Ade memasuki wilayah larangan bagi anak kelas I dan II, yang disebut Jalur Gaza. Konon, Jalur Gaza sengaja dibikin sebagai bentuk penghormatan terhadap siswa kelas III.

Bagi sekolah yang sudah terlanjur memiliki budaya kekerasan, Arif memiliki kiat untuk memangkasnya secara perlahan. Modal utama yaitu adanya kemauan bersama dari segenap elemen sekolah untuk mengelimir tradisi tersebut.

Selanjutnya, sejumlah kebijakan baru terkait mekanisme pencegahan, rehabilitasi, dan represi bisa mulai diperkenalkan kepada para siswa. Sehingga mereka memiliki kesadaran bahwa sekolah adalah institusi yang memiliki aturan main dan memahami bullying merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan.

"Bila siswa mulai melenceng harus segera direhabilitasi dan bila sudah parah bisa digunakan cara represif. Bahkan sampai dikeluarkan dari sekolah bila ketahuan melakukan bullying atau menjual narkoba," ujar Arif.

Sebagai pelengkap program, harus ada kurikulum pendidikan alternatif. Yaitu penciptaan suasana bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk belajar. Teknisnya dengan mengajak siswa aktif dalam kegiatan kesenian, olahraga, serta kegiatan organisatoris lain. Dengan begitu akan tercipta pribadi yang sehat. "Jadi tugas guru bukan sekadar mengajar, tapi juga mendidik," ujarnya. (ful)

(ahm)

  • rama » 0 Tanggapan
    kalian jangan merusak nama Jalur Gaza di Palestina yang disakralkan untuk tujuan suci.Jangan2 ada antek2 Israel yang terkenal sebagai dajjal di sekolah itu.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • bunga » 0 Tanggapan
    kalo menurut saya kelas 3 itu tdk ingin dihormati dan gak perlu dg cara yg kelewat batas bgggttttt kayak gitu . . setdknya klo ada adik kelas yg nyolot ya kita hanya mngingatkan, netral aja deh sbg senior or junior hrs bisa menempatkan posisi
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.