MAGETAN - Kondisi Aprilia Sartika Dewi, 4,5 tahun, sungguh memprihatinkan. Bocah perempuan ini menderita gizi buruk parah. Hingga saat ini, bocah yang tak lagi memiliki orangtua ini harus menjalani perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Sayidiman, Magetan, Jawa Timur.
Bocah ini hanya memiliki berat badan 6,5 kilogram. Padahal, bayi normal yang seumur dia rata-rata memiliki berat badan 12-13 kilogram. Selain kekurangan energi dan protein, bocah ini juga dinyatakan menderita gizi buruk marasmus.
Tubuh bocah itu sangat kurus. Kulitnya keriput mirip kulit orang tua. Tulang tulangnya terlihat menonjol. Rambutnya terlihat rontok. Sedangkan, gerakkan tubuhnya terlihat lemah dan lamban. Dia hanya tergolek lemah di tempat tidurnya ditemani oleh neneknya, Jumilah (50).
Bocah ini merupakan anak kedua dari pasangan Anik Wijayanti (28) dan Bustami (30). Sedangkan anak kedua mereka bernama Aika Septi Wulandari (6), kondisinya sehat.
Semula, keluarga ini tinggal di Sumenep, Madura, Jawa Timur. Namun sekira setahun yang lalu Bustami meninggal karena kecelakaan. Karena tidak ada lagi kerabat dekat di Sumenep, ditambah lagi kondisi Aprilia yang sakit-sakitan, Anik Wijayanti kemudian memilih pulang ke kampung halamannya di Desa Taji, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, membawa kedua anaknya.
Saat itu, Anik langsung membawa Aprilia ke Puskesmas Taji. Namun, karena kondisi Aprilia cukup kritis, pihak puskesmas langsung merujuk ke RSUD dr Sayidiman, Magetan. Namun, tragisnya pada saat yang bersamaan, Anik juga menderita sakit gangguan pencernaan dan harus menjalani perawatan di RSUD dr Sayidiman.
Namun, kondisi sakit yang dialami Anik telanjur parah akhirnya nyawanya tak tertolong.
"Ibu Aprilia meninggal sekitar sepuluh hari yang lalu. Sedangkan, kondisi Aprilia sampai saat ini masih kritis dan masih butuh perawatan intensif seperti ini," ujar Jumilah saat menemani cucunya itu, Rabu (11/11/2009).
Menurut Jumilah, saat ini asupan makanan yang masuk ke tubuh Aprilia hanya susu. Untuk membantu daya tahan tubuh Aprilia, tim dokter memasukkan asupan nutrisi dan protein lewat jarum suntik yang ditancapkan di lengan kanannya.
Menurut dr Sri Purwandari, dokter yang menangani balita gizi buruk ini, Aprilia ini mengalami kekurangan gizi dan protein. "Bocah itu menderita gizi buruk marasmus," ujarnya.
Menurut dia, kekurangan gizi dan protein mengakibatkan daya tahan tubuh bocah itu sangat lemah dan mudah terserang berbagai penyakit. "Bocah itu mengalami sesak napas, gangguan pernapasan, dan disertai gangguan pencernaan. Dia tidak mau makan karena di sekitar mulut bocah itu terdapat jamur," ujarnya.
Saat ini, kata dia, tim dokter untuk menangani bocah penderita gizi buruk ini terus berupaya menyembuhkan penyakit yang dia derita terlebih dahulu. Kemudian, secara bertahap dan berangsur, dokter akan berupaya memulihkan kondisi kekurangan gizi dan protein yang dialaminya.
"Kita akan terus memantau perkembangan bocah itu selama 24 jam penuh. Saat ini yang terpenting menyembuhkan sakitnya dulu, baru kemudian memulihkan kondisi kekurangan gizinya," tandasnya.
(Muhammad Roqib/Koran SI/lam)