DENPASAR - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menggelar inspeksi mendadak di Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali. Keduanya pun disambut komputer dan kursi rusak.
Kondisi itu ditemui Patrialis dan Wacik saat tiba di terminal kedatangan internasional, tepatnya di ruang pelayanan Visa on Arrival (VoA). Di tempat ini, keduanya mendapati enam loket pelayanan VoA tidak berfungsi dari 26 loket yang ada.
Usut punya usut, enam loket itu tidak berfungsi lantaran perangkat komputernya tidak berfungsi. Di loket deretan depan yang tidak berfungsi itu juga ditemui sejumlah kursi teronggok karena rusak.
"Kita ingin 26 loket yang ada berfungsi dan terisi orang serta alatnya. Kalau bisa setelah turis tiba di airport, 15 menit kemudian sudah berada taksi. Itu baru pelayanan bagus," pinta Patrialis, Minggu (15/11/2009).
Menurutnya, kunjungan itu merupakan bagian program 100 hari departemennya, yakni memperbaiki sistem keimigrasian di tanah air. "Ingat hebatnya Bali adalah hebatnya Indonesia. Jangan sampai orang datang ke sini merasa kecewa. Kita harus memberikan yang terbaik," tegasnya.
Sedangkan Wacik mengingatkan status Bandara Ngurah Rai merupakan bandara destinasi, bukan bandara transit. Dengan demikian, tidak perlu dibangun banyak ruangan untuk toko atau art shop. "Ngurah Rai tidak seperti Changi di Singapura. Jika mau berbelanja, silahkan ke Pasar Sukawati saja," tuturnya.
(Dian AF)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.