Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tanah di Semburan Lumpur Lapindo, Amblas 12 Meter

Abdul Rouf , Jurnalis-Senin, 16 November 2009 |03:10 WIB
Tanah di Semburan Lumpur Lapindo, Amblas 12 Meter
Tanah retak di tanggul penahan lumpur Lapindo. (Foto: Koran SI)
A
A
A

SIDOARJO - Penurunan tanah di sekitar pusat semburan lumpur Lapindo terus terjadi. Penurunan yang terjadi di tanggul dekat pusat semburan kini sudah mencapai 12 meter.

Tidak hanya itu, tanggul seperti di titik 78, 79, 81 dan 82, dalam beberapa hari ini juga rembes. Sedangkan di pintu masuk Siring, tanggul juga mengalami retak-retak sepanjang 15 meter.

Berdasarkan pantauan dilapangan, retakan di tanggul Siring menganga di atas 5 centimeter. Padahal kondisi tanggul sudah padat. Sedangkan di beberapa titik tanggul sebelah timur pusat semburan juga mulai merembes.

Kepala Humas BPLS, Akhmad Zulkarnain, mengakui kalau beberapa titik tanggul rembes dan retak. "Untuk tanggul di Siring yang retak-retak itu karena pengaruh penurunan tanah. Tapi kondisinya masih aman," ujarnya, Minggu (15/11/2009).

Zulkarnain menambahkan, kawasan yang tergolong penurunan tanahnya cukup drastis mulai tanggul Tugu Kuning, Siring memanjang ke timur pusat semburan, kawasan Renokenongo. Sedangkan untuk sisi utara dan selatan pusat semburan Lumpur penurunan tanahnya relatif lamban.

Mengapa di sebelah barat dan timur semburan, penurunan tanahnya lebih drastis? Zulkarnain menyebut, retakan di bawah tanah memanjang mulai pusat semburan dari timur mengarah ke barat.

Untuk tanggul timur pusat semburan, lanjut pria yang biasa disapa Izul itu, penurunan tanah bila dihitung dalam setahun sedalam 4 meter. Sedangkan untuk sisi barat, seperti di tanggul Tugu Kuning, Siring, penurunan tanah dalam dua tahun terakhir sedalam 2 meter atau ambles 1 meter dalam setahun.

"Untuk tanggul dekat pusat semburan dalam setahun penurunan tanah 4 meter. Jadi tinggal mengalikan berapa tahun semburan Lumpur panas ini keluar," jelasnya.

Berbeda dengan tanggul di kawasan Kedungbendo (utara pusat semburan) dan tanggul Mindi (selatan pusat semburan). Penurunan tanah di kawasan dua tanggul ini lebih lamban. Dalam setahun, penurunan tanah di dua tanggul ini sekira 20 centimeter.

Dia menambahkan, posisi garis retakan atau patahan yang memanjang dari arah timur ke barat pusat semburan membuat kawasan itu lebih rentan penurunan tanah. "Kalau dekat pusat semburan penurunan tanahnya lebih cepat," ucapnya.

Sedangkan untuk tanggul baru yang memanjang dari Renokenongo sampai Glagaharum, penurunan tanah dalam setahun diperkirakan 30 centimeter. Kawasan ini termasuk berada di sekitar patahan bawah tanah.

Sementara itu, sejak pemerintah mengeluarkan Perpres N0 40 Tahun 2009, untuk penanganan pusat semburan lumpur dan pengaliran ke Kali Porong ditangani BPLS. Dengan kata lain, tanggung jawab yang sebelumnya dipegang Lapindo sudah diserahkan ke BPLS.

Dalam Perpres No 40 tahun 2009, selain mengatur pelimpahan penanganan lumpur dari Lapindo ke BPLS, ternyata ada revisi untuk pembayaran ganti rugi untuk Desa Besuki, Pejarakan, dan Kedungcangkring, Kecamatan Jabon yang ditanggung APBN (pemerintah).

Jika awalnya, setelah menerima 20 persen pelunasan ganti rugi menunggu ganti rugi dari Lapindo kelar. Dalam Perpres No 40, warga tiga desa itu bisa menerima pembayaran 30 persen lagi. Sedangkan untuk 50 persen selanjutnya, menunggu pembayaran ganti rugi Lapindo kelar.

(Dian AF)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement