JAKARTA - Banjir yang sering terjadi di Jakarta beberapa waktu ini dituding karena perbaikan drainase yang kurang cepat dilakukan sebelum musim hujan tiba.
Direktur Lingkungan Hidup Perkotaan Institut Hijau Indonesia Slamet Daroyni mengatakan, perbaikan drainase atau saluran mikro di Jakarta selalu dikerjakan pada September atau Oktober.Padahal musim hujan akan mengancam pada November. Pekerjaan pada kedua bulan itu pun tidak dilakukan dengan cepat,akibatnya begitu masuk musim hujan, perbaikan drainase malah tak kunjung selesai. Begitu hujan terjadi, drainase yang telat diperbaiki itu bukan hanya tak mampu menampung air hujan, tapi juga menimbulkan masalah lain,yakni kemacetan.
Selain itu tanah buangan galian drainase yang ditumpuk sembarangan di tepi jalan sehingga satu ruas jalan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. Genangan pun bertambah parah saat hujan turun di mana tanah bekas galian terbawa air dan menyumbat titik drainase yang telah diperbaiki. Sampah di selokan dan drainase yang belum dikeruk pun menambah genangan dan berubah menjadi banjir. Sampah ini, katanya, harus menjadi perhatian pemprov karena sekitar 650 ton sampah menumpuk di saluran mikro dan makro Ibu Kota sehingga menjadi salah satu penyebab banjir.
"Sampah dan lumpur menumpuk menjadi satu sehingga menyebabkan penyumbatan," katanya melalui sambungan telepon. Perbaikan drainase pun dilakukan hanya sebatas seremonial.Artinya, hanya dilakukan pada saat musim hujan akan datang,padahal pemeliharaan semestinya dilakukan per bulan sehingga penyumbatan tidak pernah terjadi. Pemeliharaan secara teratur pun dapat merehabilitasisaluranyangtersumbat jaringan utilitas seperti kabel listrik,telepon,dan air.
Daroyni menegaskan, saluran air tidak semestinya digabung dengan jaringan utilitas yang akibatnya dapat memperparah banjir akibat ketidakmampuan saluran menyerap air. Kepala Bidang Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta Tardjuki mengatakan, untuk mengatasi banjir di sekitar Jalan Sudirman, Thamrin dan Jalan Sabang, akan ditambah satu pompa air mobile yang akan ditaruh di belakang Gedung Jaya. Kapasitas pompa adalah 0,25 m3/detik. Kapasitas ini sama dengan kapasitas satu pompa yang sudah ada sebelumnya di gedung ini.
Penambahan genset untuk pompa mobile akan ditambah di belakang gedung Surya karena tidak ada cadangan listrik di sana. Lalu dengan dana Rp600 juta Kali Krukut bagian bawah juga akan dikeruk untuk mengamankan Jalan Medan Merdeka Barat dari genangan. "Pengerukan atas perintah gubernur atas banjir dan kemacetan yang terjadi pada Jumat lalu (13/11)," jelasnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi D di Gedung DPRD DKI. Selain itu, peninggian jalan yang meluapkan air ke jalanan dan menyebabkan kemacetan juga akan dilakukan.
Beberapa lokasi peninggian jalan di antaranya Kwitang dan perempatan Coca Cola. Peninggian jalan juga dilakukan karena pompa mobile untuk menyedot air tidak dapat diterapkan. Tardjuki mengungkapkan, genangan masih akan terjadi hingga akhir tahun karena anggaran untuk pengendalian genangan baru akan keluar tahun depan.Totalnya mencapai Rp47 miliar. "Saat ini yang sedang dilakukan adalah pengurasan saluran dari sampah," ujarnya.
Dirinya menambahkan, 10 titik yang masih akan tergenang hingga akhir tahun adalah di Jalan Medan Merdeka Timur dan Barat, Sabang, Jalan KH Agus Salim, Jalan Kebon Nanas,Jalan Matraman, Jalan Daan Mogot, dan Jalan Sudirman (Neneng Zubaidah/Koran SI/ram)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan