getting time...

Suramadu Terancam Jadi Hutan Reklame

Selasa, 17 November 2009 01:04 wib
Jembatan Suramadu. (Foto: Subairi/Koran SI)
Jembatan Suramadu. (Foto: Subairi/Koran SI)

BANGKALAN - Akses jalan tol Suramadu sisi kabupaten Bangkalan, terancam akan menjadi hutan reklame. Hal itu bisa dilihat dari sudah masuknya beberapa pengusaha reklame asal Surabaya, yang berniat akan melakukan investasi di bidang tersebut.

Data yang diperoleh dari bagian Kantor Pelayanan Izin Terpadu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan menyatakan, sejauh ini sudah ada empat pengusaha "raksasa" reklame asal Surabaya yang telah mengantongi izin untuk mendirikan bangunan reklame.

Empat pengusaha yang dimaksud yakni Warna-Warni, Oxy, Teksma dan Next. Semuanya sudah mengantongi izin selama kurang lebih dua tahun. Bahkan sebagian sudah merampungkan kontruksi bangunan reklame yang akan dipakai.  

"Terkait reklame di sekitar Suramadu, sudah ada empat perusahaan yang masuk dan sebagian sudah ada yang berdiri," ujarnya, Kepala kantor pelayanan izin terpadu, Pemkab Bangkalan, Abdul Rasjid, Senin (16/11/2009).

Rasjid menjelaskan, empat perusahaan reklame tersebut akan mendirikan bangunan di akses keluar tol, tepatnya di perempatan Jalan Raya Tangkel, Kecamatan Burneh. Adapun bentuk reklame yang didirikan berjenis papan, dengan ukuran yang bervariasi mulai dari 2x3 meter hingga 5x10 meter.

Dalam izin yang dikeluarkan, masing-masing perusahaan reklame hanya akan menderikan satu papan reklame saja. Untuk waktu yang diberikan, rata-rata berkisar dua tahun saja. Bila masa waktu perizinan sudah habis, bisa diperpanjang lagi dengan catatan tidak bermasalah.

"Paling tidak sudah ada investor yang berani masuk, terutama dalam bidang reklame yang memang mempunyai prospek," tegas Rasjid.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Labang, yang berdekatan dengan akses tol Suramadu, Achmad Ali Ridho berharap dengan adanya reklame tidak mengganggu estetika sekitar. Terpenting, bangunan yang dikeluarkan harus sesuai dengan izin yang berlaku.

"Di satu sisi bagus untuk investasi. Tapi perlu diingat masalah estetika sekitar lokasi," katanya.
(Subairi/Koran SI/hri)