Opini Pembaca

Menyikapi Nasionalisme Mantan GAM

Sabtu, 21 November 2009 12:16 wib | -

Ketika Aceh masih dilanda perang pada jadul (jaman dulu). Betapa tidak nyawa terlalu murah harganya. Kapan saja jika tidak hati-hati dalam hitungan detik nyawa bisa akan melayang. Hal itu menghantui pikiran setiap saat rakyat Aceh selama konflik terjadi. Lalu bagimana ketika kondisi Aceh yang semakin hari semakin kondusif? Dari sisi keamanan memang relatif baik. Tapi pada sisi pemerintahan dan politik memang agak menyakitkan. Bagaimana tidak para pentolan mantan GAM menguasi semua lini, mulai dari pemerintahan, parpol lokal dan berbagai proyek rata-rata dipegang oleh mantan separatis. Bahkan pada sisi nasionalisme disinilah rakyat Aceh yang setia kepada NKRI sering dimainkan dan dibuat sakit hati.

Lambang negara yang sehrusnya dihormati kini kerap kali dilecehkan dan kerap diolok-olok oleh para pentolan
GAM.Berbagai kejadian pelecehan lambang negara yang berhasil dicatat selama pelantikan anggota DPRK di Aceh
tentu saja bukan sembarang catatan. Catatan penting yang perlu disampaikan ke masyarakat diantaranya pada
beberapa bulan yang lalu saat pelantikan di Gedung DPRK Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Lhokseumawe, Aceh Timur dan Aceh Barat. Pada berbagai acara tersebut anggota DPRK (dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten) yang berasal dari Partai Aceh (PA) secara sengaja telah melecehkan lambang negara.

Mereka tidak ikut berdiri ketika saat dikumandangkan lagu Indonesia Raya. Apalagi mau ikut mengeluarkan suara dalam berpartisipasi menyanyikan Indonesia Raya. Rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan diharapkan kepada
anggota legeslatif terpilih periode 2009 hingga 2014 masih jauh panggang dari api. Rakyat berharap bahkan merupakan prioritas yang utama harus ditancapkan dalam dada setiap wakil rakyat. Sehingga dapat dijadikan sebagai contoh dan suri tauladan bagi masyarakat Aceh lainnya.

Namun pada kenyataannya sungguh ironis dengan sikap dan perilaku yang diperlihatkan oleh para wakil rakyat
khususnya dari partai PA sungguh mengecewakan. Mereka sangat kurang peduli dan tidak memiliki rasa penghormatan terhadap lambang maupun simbol negara. Bahkan mereka sering bersikap merendahkan dan meremehkan segala kegiatan yang berkaitan dengan rasa nasionalisme maupun yang bersifat wawasan kebangsaan. Hal ini membuktikan bahwa idieologi separatis yang tertancap dari diri dan hati sanubari dari kalangan partai PA masih terlalu kuat.

Kalaupun melakukan penghormatan hanya sekedar "lip service" (pemanis bibir) saja sekedar untuk menyenangkan
masyarakat maupun pemerintah pusat. Sekarang mereka menduduki kursi kekuasaan tertinggi, dimana hampir seluruh wilayah di Aceh mereka menjadi ketua legislatif maupun ketua komisi. Dengan genggaman kekuasaan yang dimiliki secara mayoritas maka tidak menutup kemungkinan secara perlahan namun pasti mereka akan melangkah pada tujuan yaitu untuk memerdekakan Aceh.

Contoh yang sangat jelas sudah di depan mata. Kekuatan pilar digarda terdepan seperti aparat keamanan tak bisa berbuat banyak karena sudah dipasung dengan berbagai aturan yang hanya menguntungkan pihak separatis mantan GAM. Berhasilnya mengikat aparat keamanan dengan berbagai aturan maka mulailah bermain dari hal terkecil seperti tidak menghormat bendera. Mereka tidak mau berdiri saat lagu kebangsaan Indonesia raya dinyanyikan.

Bahkan menghindari mengikuti penataran wawasan kebangsaan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat yang
dilaksanakan oleh Depdagri. Sungguh ironi memang pada setiap kegiatan resmi yang diikuti berbagai kalangan
pejabat maupun unsur Muspida di Aceh, para pejabat setempat tidak mampu berbuat banyak dalam menyikapi
perilaku para wakil rakyat dari PA. Apalagi menegur khususnya berkaitan dengan penghargaan terhadap lambang
dan simbol negara.

Jika hal ini tidak ditindak lanjuti secara SERIUS dan TEGAS maka akan menjadikan kesempatan bagi para wakil
rakyat mantan GAM (PA) untuk memasukkan "doktrin". Dan, pengaruhnya kepada masyarakat luas dalam rangka
mengaburkan arti nasionalisme dan wawasan kebangsaan semakin nampak. Kalau sudah demikian siapa lagi yang akan menghalangi jika para mantan GAM ingin mendirikan negara dalam negara, alias merdeka?

Ishak Daud
Jl. Kuta Karang, Lhokseumawe - NAD

(//mbs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »