Menyikapi Nasionalisme Mantan GAM

|

Ketika Aceh masih dilanda perang pada jadul (jaman dulu). Betapa tidak nyawa  terlalu murah harganya. Kapan saja jika tidak hati-hati dalam hitungan detik nyawa bisa akan melayang. Hal itu menghantui pikiran setiap saat rakyat Aceh selama konflik terjadi. Lalu bagimana ketika kondisi Aceh yang semakin hari semakin kondusif? Dari  sisi keamanan  memang relatif baik. Tapi pada sisi pemerintahan dan politik memang agak menyakitkan. Bagaimana tidak para pentolan mantan GAM menguasi semua lini, mulai dari pemerintahan, parpol lokal dan berbagai proyek rata-rata dipegang oleh mantan separatis. Bahkan pada sisi nasionalisme disinilah rakyat Aceh yang setia kepada NKRI sering dimainkan dan dibuat sakit hati.

Lambang negara yang sehrusnya dihormati kini kerap kali dilecehkan dan kerap diolok-olok oleh para pentolan

GAM.Berbagai kejadian pelecehan lambang negara yang berhasil dicatat selama pelantikan anggota DPRK di Aceh

tentu saja bukan sembarang catatan. Catatan penting yang perlu disampaikan ke masyarakat   diantaranya  pada

beberapa bulan yang lalu saat pelantikan di Gedung DPRK Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Lhokseumawe, Aceh Timur dan  Aceh Barat. Pada berbagai acara tersebut anggota DPRK (dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten) yang berasal dari Partai Aceh (PA) secara sengaja telah melecehkan lambang negara.

Mereka tidak ikut berdiri ketika saat dikumandangkan lagu Indonesia Raya. Apalagi mau ikut mengeluarkan suara dalam berpartisipasi menyanyikan Indonesia Raya. Rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan diharapkan kepada

anggota legeslatif terpilih periode 2009 hingga 2014 masih jauh panggang dari api. Rakyat berharap bahkan  merupakan prioritas yang utama harus ditancapkan dalam dada setiap wakil rakyat. Sehingga dapat dijadikan  sebagai contoh dan suri tauladan bagi masyarakat Aceh lainnya.

Namun pada kenyataannya  sungguh ironis dengan sikap dan perilaku yang  diperlihatkan oleh para wakil rakyat

khususnya dari partai PA  sungguh mengecewakan. Mereka sangat  kurang peduli dan tidak memiliki rasa penghormatan terhadap lambang maupun simbol negara. Bahkan mereka sering bersikap merendahkan dan meremehkan  segala kegiatan yang berkaitan dengan rasa nasionalisme maupun yang bersifat wawasan kebangsaan. Hal ini membuktikan bahwa idieologi separatis yang tertancap dari diri dan hati sanubari dari kalangan partai PA masih terlalu kuat.

Kalaupun melakukan penghormatan hanya sekedar "lip service" (pemanis bibir) saja sekedar untuk menyenangkan

masyarakat maupun pemerintah pusat. Sekarang mereka menduduki kursi kekuasaan tertinggi, dimana hampir seluruh wilayah di Aceh mereka menjadi ketua legislatif  maupun ketua komisi. Dengan genggaman kekuasaan yang dimiliki secara mayoritas  maka tidak menutup kemungkinan secara perlahan namun pasti mereka akan melangkah pada tujuan yaitu untuk memerdekakan Aceh.

Contoh yang sangat jelas sudah di depan mata. Kekuatan pilar digarda terdepan seperti aparat keamanan tak bisa berbuat banyak karena sudah dipasung dengan berbagai aturan yang hanya menguntungkan pihak separatis mantan GAM. Berhasilnya mengikat aparat keamanan dengan berbagai aturan maka mulailah bermain dari hal terkecil seperti tidak menghormat bendera. Mereka  tidak mau berdiri saat lagu kebangsaan Indonesia raya dinyanyikan.

Bahkan menghindari mengikuti penataran wawasan kebangsaan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat yang

dilaksanakan oleh Depdagri. Sungguh ironi memang pada setiap kegiatan resmi yang diikuti berbagai kalangan

pejabat maupun unsur Muspida di Aceh, para pejabat setempat tidak mampu berbuat banyak dalam menyikapi

perilaku para wakil rakyat dari PA. Apalagi menegur khususnya berkaitan dengan penghargaan terhadap  lambang

dan simbol negara.

Jika hal ini tidak ditindak lanjuti secara SERIUS dan TEGAS maka akan menjadikan kesempatan bagi para wakil

rakyat mantan GAM (PA) untuk memasukkan "doktrin". Dan, pengaruhnya kepada masyarakat luas dalam rangka

mengaburkan arti nasionalisme dan wawasan kebangsaan semakin nampak. Kalau sudah demikian siapa lagi yang akan menghalangi jika para mantan GAM ingin mendirikan negara dalam negara, alias merdeka?

Ishak Daud

Jl. Kuta Karang, Lhokseumawe - NAD

(mbs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Berita

      Hingga H+2 Lebaran, 490 Pemudik Tewas

      Saya  sampaikan  data Arus mudik lebaran tahun 2011 / 1432 H per tanggal 1 September 2011 (H+1) dari Pos Mudik Sehat DitJen P2PL Kemenkes, sebagai berikut.

    Baca Juga

    Larang Munas Golkar di Bali Cara KIH Acak-Acak KMP