Sejatinya, jejaring sosial umumnya memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan pengguna dalam hal memperluas interaksi berdasarkan kesamaan nilai. Tetapi, banyak fakta yang mengungkapkan hal negatif.
Seberapa cerdas kita menggunakan waktu di depan internet? Boleh jadi itulah pertanyaan yang kini muncul seiring dengan perkembangan penggunaan internet di dunia. Indonesia sebagai salah satu negara berpenduduk terbesar di dunia memiliki jumlah pengguna internet cukup banyak. Berdasarkan data Internetworldstats, hingga saat ini pengguna internet di Indonesia mencapai lebih dari 25 juta orang.
Angka ini 10,4 persen dari populasi atau 1,5 persem dari pengguna di dunia. Karena itu, Indonesia berada pada peringkat ke-15 dunia sebagai negara pengguna internet terbesar. Yang menarik, dari seluruh pengguna internet di Indonesia, lebih dari 50 persennya (sekira 12 juta) tercatat sebagai pemilik akun jejaring sosial Facebook. Jumlah ini menempati peringkat tujuh besar pengguna Facebook di dunia. Adapun pertumbuhan pengguna Facebook di Indonesia mencapai 6,84 persen dalam satu pekan terakhir.
Facebook di Indonesia diakses mulai dari murid sekolah dasar hingga pekerja kantor. Dengan semakin pesatnya perkembangan pengguna Facebook, tak dapat dimungkiri bahwa penggunaan Facebook memiliki dampak, baik positif maupun negatif. Pertanyaannya, bagaimana masyarakat dapat menggunakan Facebook dengan bijaksana sesuai dengan kebutuhan?
Berdasarkan kajian sebuah lembaga independen di Inggris, Ofcom, sesuai dengan perilaku saat berselancar di dunia maya, para pengguna Facebook dikategorikan dalam beberapa tipologi. Pertama, alpha socializers, yaitu tipikal pengguna yang hanya mencari kenalan ke sana ke mari, mengontak rekan-rekan dari para temannya.
Tipe ini merasa lebih aman mencari teman-teman dari para temannya dibandingkan langsung berkenalan dengan orang asing sama sekali. Jumlah tipe pengguna jenis ini minoritas, yang umumnya pria berusia di bawah 25 tahun. Tipe pengguna yang lain adalah attention seekers, tipikal pengguna yang suka mencari perhatian. Kadang dengan cara yang ekstrem seperti memasang foto yang provokatif. Sangat sering mengubah tampilan profil,d ari data hingga desain skin.
Gemar mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya meski hanya mau berinteraksi dengan sebagiannya saja. Biasanya, identitas aslinya adalah seorang yang insecure (tidak nyaman dengan dirinya sendiri) dan aktivitas di dunia online memberinya kesempatan besar sebagai ajang pamer diri. Kebanyakan tepi ini terdiri atas wanita dari usia remaja hingga 35 tahun. Ada juga tipe pengguna yang disebut followers, tipikal yang ikutikutan ke mana temannya berada. Tujuannya bergabung lebih ke tren.
Bukan seorang yang aktif mencari-cari teman seperti tipikal alpha socializers dan attention seekers. Banyak berlaku umum untuk pria dan wanita di banyak jenjang usia. Sementara faithfuls adalah tipikal pengguna yang punya kepercayaan diri tinggi. Sudah merasa nyaman dengan kondisi sosial yang dimiliki sekarang. Jejaring sosial lebih sebagai alat untuk mencari kontak teman-teman lama.
Cenderung menolak orang yang tidak dikenal untuk dijadikan sebagai daftar teman/kontaknya. Tipikal ini kebanyakan didapat pada mereka yang berusia di atas 20 tahun. Yang terakhir adalah tipe functionals, tipikal pengguna yang melihat jejaring sosial dari satu kebutuhan saja. Tipe semacam ini kurang tertarik untuk berkomunikasi dengan pengguna lain atau meninggalkan komentar.
Pertemanan dalam jejaring sosial hanya terbatas pada orang yang dikenal dan punya kesamaan minat atau hobi. Jumlahnya minoritas, pria di atas 20 tahun. Sebagaimana namanya, jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul yang umumnya adalah individu atau organisasi yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dan lain-lain.
Penelitian dalam berbagai bidang akademis telah menunjukkan, jejaring sosial beroperasi pada banyak tingkatan, mulai dari keluarga hingga negara, dan memegang peranan penting dalam menentukan cara memecahkan masalah, menjalankan organisasi, serta derajat keberhasilan seorang individu dalam mencapai tujuannya.
Saat ini, semakin banyak masyarakat yang menggunakan jejaring sosial,s emakin banyak hal positif maupun negatif yang ditimbulkan baik untuk pengguna maupun lingkungan sekitarnya. Sebenarnya banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari jejaring sosial seperti kemudahan berkomunikasi, jalinan silaturahmi dengan sanak saudara yang tinggal jauh, penambahan wawasan dan pengetahuan.
Namun, tak jarang, para pengguna situs jejaring sosial seperti Facebook memakai situs ini untuk hal-hal negatif seperti penyebaran pornografi, bahkan yang sedang heboh adalah Facebook dijadikan media perselingkuhan. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, satu simpulan yang bisa ditarik adalah kehadiran teknologi informasi yang pesat dan "kepraktisannya" memungkinkan adanya perubahan perilaku atau kebiasaan hidup dalam pergeseran perilaku.
Menurut M Boyd dan Ellison (2007) dalam tulisannya berjudul "Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship", definisi dari social network sites ( SNS) adalah jejaring ini merupakan suatu jalan di mana setiap individu maupun organisasi berhubungan baik dalam dunia maya.
Sejatinya, jejaring sosial umumnya memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan pengguna dalam hal memperluas interaksi berdasarkan kesamaan nilai. Selain itu untuk menambah wawasan dengan sarana pembagian informasi, berkomentar terhadap satu masalah. Bahkan, jejaring sosial bisa digunakan untuk pencitraan atau pemasaran diri secara positif.
(Koran SI/Koran SI/mbs)