MAGETAN - Memprihatinkan. Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, cenderung naik selama beberapa tahun terakhir. Selama 2001 hingga November 2009, penderita penyakit mematikan ini mencapai 47 orang.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan menyebutkan, sejak 2001 hingga 2009 menyebutkan jumlah penderita HIV AIDS yang meninggal dunia sebanyak 26 orang. Sedangkan, pada 2009 saja tercatat ada 21 penderita. Pada Oktober saja tercatat ada tujuh penderita dengan empat orang penderita meninggal.
"Penderita HIV AIDS di Magetan sudah memprihatinkan. Dilihat dari kasusnya, dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan signifikan," ujar Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Magetan Suwarno, Senin (23/11/2009).
Menurut dia, dari hasil investigasi Dinkes Magetan diketahui penderita penyakit ini rata-rata merupakan para TKI atau TKW yang bekerja di luar negeri. Sedangkan penderita yang merupakan warga Magetan asli yang tidak pernah pergi ke luar negeri, tercatat ada enam orang. Di antaranya dua orang PSK (Pekerja Seks Komersial) dan empat orang pasangan suami istri.
Menurut dia, penularan virus HIV/AIDS dapat melalui beberapa cara di antaranya hubungan seks bebas, jarum suntik, tranfusi darah, dan janin.
Menurut Suwarno, kondisi penderita HIV/AIDS di Magetan memang sangat memprihatinkan karena perkembangannya sangat cepat. Oleh karena itu, pihak Dinkes gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya penyakit HIV/AIDS. Termasuk dengan membekali paramedis di puskesmas dan rumah sakit di Magetan tentang pencegahan dan penanganan HIV/AIDS ini.
Dia berharap bidan, perawat, dan dokter yang ikut sosialisasi, juga menyebarkan informasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat di sekitar lingkungan dan lingkup kerja mereka masing-masing.
Ada beberapa tanda-tanda untuk mengetahui penularan virus HIV/AIDS secara dini. Di antaranya badan kurus, pilek tidak sembuh-sembuh, sariawan parah dan susah sembuh, diare terus menerus, dan timbul penyakit kulit seperti tumbuh bisul di sekitar alat kelamin.
Jika tanda-tanda tersebut muncul dan yang bersangkutan merupakan kelompok risiko tinggi HIV/AIDS, sebaiknya segera periksa ke puskesmas terdekat.
Ada beberapa cara untuk mencegah tertular virus HIV/AIDS. Cara yang paling ampuh adalah berperilaku hidup bersih dan sehat, hindari hubungan seks bebas, dan untuk pasangan suami istri harus selalu setia dengan pasangannya.
Sedangkan, bagi pengguna narkoba jenis suntik agar tidak berganti-ganti jarum dengan sesama pengguna narkoba lainnya.
Menurut Direktur lembaga Yayasan Bambu Nusantara Andreanus M Uran, selain melakukan pendekatan formal, pihak dinkes semestinya lebih menguatkan pendekatan informal dengan cara merubah perilaku mereka yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS.
"HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es. Jika di permukaan ditemukan ada kasus, maka di sekitarnya akan rawan sekali tertular penyakit mematikan ini," ujarnya.
Selain itu, kata dia, dinkes juga semestinya lebih aktif mengajak mereka yang berisiko tinggi tertular IMS (Infeksi Seksual Menular) dan HIV/AIDS untuk memeriksakan lebih dini kondisi kesehatannya sebelum terlanjur terkena virus mematikan tersebut.
(Lamtiur Kristin Natalia Malau)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.