SIDOARJO - Warga Desa Permisan, Kecamatan Jabon, menyegel dan menduduki pipa gas Pertamina yang digarap PT Elnusa di desa setempat. Aksi ini dipicu, karena tuntutan warga tidak digubris.
Aksi demo warga Permisan itu merupakan yang kesekian kalinya. Para pendemo berasal dari RT 06 RW 02 Desa Permisan. Tuntutan warga, meminta aktivitas pembersihan pipa gas Pertamina itu dihentikan.
Sebab, pembersihan pipa dengan mesin kompresor dan genset yang telah berjalan sekitar sebulan itu menimbulkan kebisingan. Warga sangat terganggu dengan suara mesin kompresor dan genset yang dipakai PT Elnusa membersihkan pipa gas Pertamina itu.
Wasis, Ketua RT 06 RW 02, mengatakan, bukan hanya terganggu suara bising, warga kampungnya juga terganggu dengan pengelasan pipa gas Pertamina yang tidak ditutup oleh PT Elnusa.
"PT Elnusa harusnya memberi ganti rugi berupa uang konpensasi kepada warga RT 06 sebesar Rp 500 ribu per kepala keluarga. Tapi sejauh ini tuntutan kami belum dipenuhi," ujarnya.
Dia menambahkan, warganya yang terdampak langsung aktivitas pembersihan pipa itu sekitar 80 KK. Sejumlah warga Desa Permisan lainnya, warga juga menuntut pemberian ganti rugi tanaman terhadap 13 pemilik lahan yang tanahnya dilewati pipa Pertamina.
"Petani dirugikan karena lahan kami dilewati pipa Pertamina. Ketika pipa Pertamina itu dibersihkan dengan alat berat, tanaman jadi rusak," ujar salah satu pemilik lahan yang dilewati pipa. Aksi demo warga Permisan yang sudah berjalan sekitar
seminggu terakhir ini sebenarnya sudah mendapat respons dari PT Elnusa. Sedikitnya sudah tiga kali warga dan PT Elnusa berunding, namun belum ada tanda-tanda tuntutan warga dipenuhi PT Elnusa.
Ketua Komisi A DPRD Sidoarjo, Mundzir Dwi Ilmiawan yang kebetulan rumahnya berada di Desa Permisan meminta PT Elnusa memperhatikan aspirasi warga. Pertamina atau PT Elnusa jangan mengabaikan tuntutan warga. karena bagaimana pun aktivitas pembersihan pipa gas itu merugikan warga.
"Saya berharap perundingan yang digelar saat ini (Rabu siang), antara PT Elnusa, warga dan Pemerintah Desa ada titik temu," ujar Mundzir.
Sayangnya, perundingan itu akhirnya gagal membuahkan hasil kesepakatan. Pimpinan PT Elnusa tidak menghadiri pertemuan dan warga ngotot agar tuntutannya dipenuhi. Perundingan antara warga dan PT Elnusa yang dihadiri Pemdes pun akhirnya deadlock. Rabu sore tadi, warga meneruskan aksi demo di dekat pipa gas.
"Selagi pimpinan PT Elnusa tidak hadir dalam rapat dan tuntutan warga dikabulkan, masalahnya akan berlarut-larut. Kami berharap segera ada titik temu dalam perundingan selanjutnya," tegas Mundzir.
(Abdul Rouf/Koran SI/fit)