Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tradisi Gerebeg Ageng Keraton Kanoman

Tantan Sulton Bukhawan , Jurnalis-Sabtu, 28 November 2009 |01:00 WIB
Tradisi Gerebeg Ageng Keraton Kanoman
A
A
A

CIREBON - Ratusan warga dari berbagai daerah, mengikuti acara Gerebeg Ageng dan salat Idul Adha bersama yang dilakukan Kesultanan Kanoman di Komplek Astana Gunung Jati, Kecamatan Gunung, Jati Kabupaten Cirebon, Jumat (27/11/2009).

Gerebeg Ageng merupakan acara rutin yang digelar Keraton Kanoman Cirebon, meskpin kegiatan tidak seramai acara Gerebeg Syawal yang kerap digelar sepeken setelah Idul Fitri, namun acara Gerebeg Ageng berjalan khidmat dan di ikuti ratusan warga dari berbagai daerah.

Berdasarkan informasi, prosesi Gerebeg Ageng yang langsung dipimpin Sultan Kanoman, Pangeran Raja Muhamad Emirudin turut diikuti seluruh keluarga keraton. Dalam kesempatan itu juga turut hadir Pangeran Patih Qodirun didampingi para kerabat keraton.

Seperti halnya Gerebeg Syawal, prosesi Gerebeg Ageng dilakukan sejak pagi sekitar pukul 06.30 WIB. Sultan Kanoman dan dan Pangeran Patih Qodirun tampak mengenakan jubah emas yang kerap digunakan dalam setiap acara-acara tradisi keraton.

Setelah sultan dan kerabat masuk kedalam Komplek Astana Gunung Jati, prosesi diawali dengan salat Idul Adha bersama di Masjid Sunan Gunung Jati yang berada tepat di tengah-tengah area makam. Setelah melakukan salat bersama, sultan bersilaturahmi dengan kerabat keraton.

Sementara itu, masyarakat umum yang memenuhi masjid serta pelataran makam Gunung Jati, diberikan kesempatan untuk langsung bersilaturahmi dengan sultan dan kerabat. Dalam acara ini, tampak warga berebut menyalami.

Prosesi silaturahmi dengan sultan ini, merupakan momentum yang dianggap penting bagi para pengunjung. Pasalnya, mereka dapat langsung menyalami, atau sekadar mencium tangan sultan yang diyakini bakal mendatangkan berkah.

Setelah bersalaman dengan masyarakat, lantas sultan dan keluarga menuju kompleks pemakamanan Gunung Jati guna melakukan ziarah. Selanjutnya, sultan membuka pintu pasujudan yang merupakan gerbang utama menuju makam Sunan Gunung Jati.

Pintu pasujudan ini, hanya dibuka dua kali dalam setahun yakni pada saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tepat di depan pintu tersebut, sultan dan keluarga melakukan doa bersama yang diikut warga yang berderet di bagian belakang.

"Kegiatan Gerebeg Ageng ini, merupakan salah satu acara yang dimaknai sebagai upaya untuk mengikat tali silaturahmi antara keluarg keraton dan masyarakat umum," tutur juru bicara keraton Kanoman Pangeran Arif Rahman usai acara berlangsung.

Dalam kesempatan itu Arif menegaskan, kegiatan ini juga digelar guna mengingatkan masyarakat yang kerap berziarah ke makam Sunan Gunung Jati agar tidak terjebak ke arah musyrik. Hal itu, dicontoh keluarga keraton dengan melakukan tahlil, doa bersama dan salat sunah tanpa ada kegiatan lain yang mengarah kepada kemusyrikan.

(Dadan Muhammad Ramdan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement