JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta akhirnya memiliki stasiun pemantau kualitas udara sendiri. Namun stasiun ini baru bisa memantau kualitas udara di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan sekitarnya.
Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Peni Susanti mengatakan, sekian lama dalam proses pemantauan kualitas udara di ibukota, Pemprov DKI Jakarta selalu meminjam alat pemantau mobile dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup. "Alat itu kami pinjam untuk pelaksanaan Car Free Day pula," ujarnya dalam peresmian Stasiun Pemantau Kualitas Udara Tepi Jalan di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (29/11/2009).
Stasiun senilai Rp5,5 miliar ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo bertepatan dengan acara Car Free Day (CFD). Stasiun ini tepat berada di samping Pos Polisi Bundaran HI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Pada saat diresmikan terpampang kualitas udara di Jakarta berikut dengan parameternya. Seperti suhu menunjukkan kadar 25 derajat, kelembapan 82,19 gram/meter kubik, PM 10 (partikel debu diameter < 10
mikron) 10,84 mikrogram/m3, SO2 (sulfur dioksida) 2,46 mikrogram/m3, CO2 (Karbon Monoksida) 0,45 mikrogram/m3, O3 (Ozon) 11,75 mikrogram/m3, NO2 (nitrogen dioksida) 13,62 mikrogram/m3, dan NMHC (Hidro karbon non metan) 19,88 mikrogram/m3.
Stasiun pemantau kualitas udara tepi jalan ini diklaim merupakan yang pertama ada di seluruh Indonesia. Stasiun pemantau ini terintegrasi dengan pusat pengolah data regional yang berada di Kantor BPLHD DKI.
Peni melanjutkan, stasiun ini berguna untuk mengetahui kualitas udara di sekitar bundaran HI. "Dan untuk mengetahui seberapa efektifnya CFD yang berlangsung di kawasan ini," lanjutnya.
(M Budi Santosa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.