BALIKPAPAN - Pemerintah Indonesia harus focus dan terukur dalam melakukan upaya antisipasi pemanasan global dan perubahan iklim.
Menurut Pengamat Lingkungan yang juga mantan Meneg LH Sarwono Kusumatmadja, posisi tawar Indonesia dalam kancah Internasional mememiliki posisi yang kuat mengingat Hutan Indonesia menjadi salah satu paru-paru dunia setelah Brazil dan Kongo.
Untuk itu Indonesa menurut Sarwono dalam konferensi lingkungan di Denmark, harus bisa berperan central dan aktif dengan menawarkan program-program nyata kepada negara-negara maju dalam penyelamatan global di bidang kehutanan.
"Kita bisa menjadi central dalam konferensi lingkungan di Copenhagen Denmark pada Desember ini. Karena itu program penyelamatan hutan kita harus permanent, terukur, jika kita inginkan mendapat Redd (semacam bantuan pendanaan)," ungkapnya.
Demikian kata Sarwono dalam seminar Nasional tentang Inisiatif Daerah dalam mengantisipasi pemanasan global dan mitigasi perubahan iklim yang digelar di Balikpapan.
Acara ini dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Timur dan perwakilan Gubernur Se-Kalimantan dan DKI Jakarta serta Provinsi Aceh, di Hotel Novotel Balikpapan, Selasa (1/12/2009).
Sarwono berpendapat jika program nyata Indonesia di bidang kehutanan sukses dan diakui, maka upaya lain dalam hal penyelamatan kelautan juga akan menuai positif.
"Tapi ini tidak mudah, harus benar-benar dilakukan secara terukur, permanent, fokus, dan menghindari kebocoran dari penyelamatan hutan kita," tandasnya.
Sarwonopun mendukung sikap pemerintah Aceh yang sejak tahun 2006 hingga kini melakukan moratorium logging di seluruh tanah Aceh.
Rencananya hasil seminar Nasional ini akan diberikan kepada Meneg LH untuk dijadikan bahan masukan bagi Presiden dalam konfrensi lingkungan di Copenhagen, Denmark, pertengahan Desember yang rencananya dihadiri kepala negara-negara maju dan berkembang.(hri)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan