JAKARTA - Masyarakat Indonesia sudah mulai terbuka dengan arus informasi dan komunikasi, serta lebih dewasa dalam menilai sebuah film. Sehingga segala bentuk pelarangan film dinilai justru akan kontraproduktif.
Pernyataan tersebut dikemukakan sutradara kenamaan Garin Nugroho mengomentari pelarangan penayangan film Balibo di ajang Jakarta Internasional Film Festival (JIFFest) ke-11 Desember ini.
"Masyarakat kita sudah terbuka menilai informasi. Lihat saja kasus Bank Century, masyarakat tidak bisa dibohongi lagi mana yang benar dan salah," ungkap Garin saat dihubungi okezone, Kamis (3/12/2009).
Dia menambahkan, pelarangan Balibo sama halnya dengan fatwa bagi masyarakat untuk tidak menonton film 2012. Fatwa itu justru membuat orang semakin penasaran dan ingin melihat film itu. Kondisi ini, lanjutnya, tentu menjadi kontraproduktif.
"Pelarangan itu justru menjadi public relation dan membuat banyak orang semakin ingin menonoton. Ini kontraproduktif," tandas pembuat film Daun di Atas Bantal itu.
Garin sendiri mengaku belum menonton film Balibo. Namun menurutnya masyarakat perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi film berdurasi 111 menit itu masuk dalam ranah politik.
Film Balibo rencananya diputar pada 6 dan 10 Desember mendatang. Namun Selasa kemarin Lembaga Sensor Film menyatakan bahwa film itu dilarang diputar di Indonesia. Film karya Robert Connoly itu menceritakan pembunuhan lima wartawan asing oleh tentara RI saat konflik Timor Timur pada 1975. Tentu film yang sudah dirilis sejak awal 2009 di Australia itu mengandung kontroversi. Pasalnya Pemerintah Indonesia menyatakan para wartawan media yang berbasis di Australia itu tewas karena terjebak dalam baku tembak, bukan sengaja dibunuh seperti yang diceritakan dalam film itu.
(ton)