DENPASAR - Pesawat Batavia Air nomor penerbangan BTV 710D tujuan Denpasar-Surabaya mengalami kerusakan mesin di Bandara Ngurah Rai, Bali. Akibat kejadian itu, sembilan orang pemumpang terluka akibat panik dan melompat dari pesawat.
Insiden bermula saat pesawat yang mengangkut 148 penumpang dan enam kru itu hendak berangkat menuju Surabaya, Kamis (3/12/2009).
Saat dilakukan start engine pertama, mesin tidak kuat menyala sehingga diputuskan untuk dibatalkan. Kemudian pilot Capt Cholil Arif melakukan start engine kedua, mesin menyala dan dinyatakan kondisinya baik.
Saat itulah tiba-tiba sejumlah penumpang melihat asap di mesin nomor satu hingga seketika menimbulkan kepanikan. Sebagian penumpang juga berteriak memberitahukan adanya api. Situasi yang sudah tidak terkendali itu spontan membuat penumpang berebut keluar dengan membuka paksa pintu darurat sebelah kiri-tengah.
"Bahkan banyak yang melompat keluar pesawat," kata General Manager PT Angkasa Pura I Ngurah Rai Heru Legowo kepada para wartawan.
Tiga penumpang diantaranya mengalami luka berat dan harus dirawat di RSUP Sanglah, Denpasar, yakni M Achyad (34) dari Surabaya, Baidowi (24) asal Probolinggo, dan Yanti (23) dari Kupang. Sedangkan enam penumpang lagi mengalami luka ringan dan dirawat di RS Graha Asih, Jimbaran. Mereka adalah Cicilia Hartati Bolo, Hendrika Ela, Lindalfa, Mulyati, Gree Manikus, dan Priyono Adin.
Menurut Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Sanglah Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma, korban mengalami patah tulang akibat melompat dari ketinggian mencapai dua meter. "Bahkan salah satu korban bernama Baidowi harus dirawat intensif karena lukanya cukup serius," ujarnya.
Sejumlah penumpang yang selamat mengaku, situasi saat itu mencekam dan tidak terkendali. Banyak yang mengira pesawat akan terbakar sehingga semua penumpang berebutan untuk menyelamatkan diri.
"Hampir semua menjerit histeris. Sebagian juga kesal, capek dan lapar karena sudah sejak Rabu (2/12) malam kami ditelantarkan," ujar Sonny Boy Saerang ketika ditemui di terminal keberangkatan domestik.
Pesawat Batavia ini sebenarnya berangkat dari Jakarta menuju Kupang pada Rabu. Namun karena Bandara El Tari Kupang ditutup akibat insiden tergelincir pesawat Merpati, pesawat jenis Boeing 737-400 ini akhirnya mengalihkan pendaratan di Ngurah Rai pada Rabu malam pukul 22.50 Wita.
"Rencananya pagi hari pesawat akan diterbangkan dulu ke Surabaya dan selanjutnya menuju Kupang. Hal ini kita lakukan karena Batavia tidak memiliki jalur langsung Denpasar-Kupang," kata Distric Manager Batavia Air Wilayah Bali Nur Wahyudi.
Sejak tiba di Ngurah Rai, para penumpang hanya diinapkan di ruang tunggu keberangkatan domestik tanpa mendapat perhatian sedikit pun dari pihak Batavia Air. Mereka juga mengaku tak dapat beristirahat dengan nyaman karena hanya tidur di kursi ruang tunggu penumpang.
Menanggapi itu, Nur Wahyudi menyatakan pihak manajemen berkeputusan tidak menginapkan para penumpang dengan alasan efisiensi waktu. "Kalau diinapkan di hotel, kami khawatir kesulitan mengumpulkan penumpang saat hendak berangkat. Apalagi jadwal take of pagi pukul 07.00 Wita," kelitnya.
Terkait dugaan kerusakan mesin, pihak Batavia Air juga membantahnya. Bahkan dalam pernyataannya kepada pihak Bandara Ngurah Rai, Capt Pilot Cholil Arief menyatakan asap yang keluar dari mesin pertama wajar terjadi dan akan hilang dengan sendirinya saat mesih sudah hidup.
"Asap yang dilihat oleh penumpang sebenarnya disebabkan adanya sisa pelumas dari penerbangan sebelumnya yang belum terbuang," ujar Adi Putra, teknisi Batavia Air di Ngurah Rai kepada wartawan. Hingga kini, pesawat nahas itu masih terparkir di Bandara Ngurah Rai.
(Miftachul Chusna/Koran SI/teb)