getting time...

Tuduh Makar 9 Desember, Presiden Makin Prokoruptor

Lamtiur Kristin Natalia Malau - Okezone
Senin, 7 Desember 2009 11:10 wib
Presiden SBY (Foto: Reuters)
Presiden SBY (Foto: Reuters)

JAKARTA - Puncak peringatan Hari Antikorupsi sedunia pada 9 Desember 2009 seharusnya menjadi momen terbaik untuk menyerukan perang terhadap para koruptor. Namun sayang, semangat tersebut justru dirusak pemimpin tertinggi di negeri ini.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkap adanya kemungkinan menggulingkan pemerintah yang sah saat ini di balik aksi tersebut. Bagi para pengamat, Presiden mungkin takut kekuasaanya berakhir di tangan people power.

Menurut Hariman Siregar, salah satu Aktivis 98, Presiden harusnya tidak mengungkap data intelijen tentang dugaan politisasi aksi massa pada 9 Desember mendatang. Kalaupun ada dugaan, cukuplah BIN atapun kepolisian yang menyampaikan kepada publik.

Kepada okezone, Senin (7/12/2009), Hariman berbagi pendapat tentang aksi besar-besaran yang terkesan ditakuti Presiden itu. Berikut percakapan singkatnya.

 
Ada rencana ikut turun dalam aksi 9 Desember?

Jiwanya ikut.


Secara fisik tidak ikut bergabung dengan para aktivis lain?

Ha...ha..., nggak lah. Biar yang muda-muda yang turun. Sekarang ini kan semua lagi rebutan, berlomba tampil.

 
Menurut Bang Hariman, pernyataan Presiden terhadap aksi 9 Desember yang mengarah ke perbuatan makar apa sudah tepat?

Orang itu agak tidak tepat. Harusnya nggak usah dia yang ngomong. Kan ada intelijen dan kepolisian. Pernyataan itu hanya akan membuat perpecahan di masyarakat.

 
Ada ajakan bagi Presiden untuk ikut hadir dalam puncak peringatan Hari Antikorupsi itu, menurut Bang Hariman apa perlu Presiden datang?

Pasti nggak akan mau.


Presiden tidak ikut datang dan malah mengeluarkan pernyataan mencurigai aksi tersebut. Apa ada pengaruh bagi citra Presiden?

Begini, sejak kasus KPK muncul, Presiden sudah dituduh mengkhianati janji untuk tidak prokoruptor. Sekarang ini, 9 Desember nanti adalah puncak dari melawan koruptor, malah dihancurkan.

Pernyataan Presiden itu kan memecah. Masyarakat yang menggelar aksi tersebut akan saling curiga. Mereka akan berpikir, 'jangan-jangan saya ini bagian dari politisasi'.

 
Kalau dibandingkan peristiwa 1998, apa massanya akan lebih besar?

Nggak mungkin lah.

 
Tapi tetap memberikan support untuk teman-teman yang akan turun ke jalan?

Semua juga kan mendukung. Sejak kemarin sudah ramai-ramai turun ke jalan, misalnya dari HTI.
(lam)

  • Yan » 0 Tanggapan
    seharusnya presiden gx perlu ikut khawatir dgn aksi tsb, kan sdhada pihak kepolisian. klw beliau khwatir, ya mgkin ada apa-apanya...
    Beri Tanggapan Laporkan
  • hasim » 0 Tanggapan
    klo gak mo susah berfikir ya udah .... seperti Gus dur aja , gitu aja kok repot repot
    Beri Tanggapan Laporkan
  • seagatesea » 0 Tanggapan
    emang enak jadi PRESIDEN??? jadi susah tidur...mimpi yg buruk2 terus.... Silahkan dinikmati perannya masing2...terima kasih
    Beri Tanggapan Laporkan
  • harimau » 0 Tanggapan
    pak Hariman ngomongnya ngelantur pakai emosi pantas terima nya salah..demikian koreksi dari Harimau..
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Abdul Jabbar » 0 Tanggapan
    Makar dengan korupsi itu beda. Yang harus diwaspadai adalah para penyusup yang membonceng demo anti korupsi untuk membuat huru-hara yang akhirnya dapat berujung pemaksaan presiden untuk turun. Apa itu namanya bukan makar?. Mereka mencoba untuk mengulangi pengalaman cara menurunkan Pak Harto. Kalau waspada terhadap makar apa sama dengan pro korupsi? Ya lain dong.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.