Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Singkong Andalan Warga Kampung Ipis Agar Tidak Kelaparan

Ricky Susan , Jurnalis-Jum'at, 11 Desember 2009 |13:57 WIB
Singkong Andalan Warga Kampung Ipis Agar Tidak Kelaparan
(foto: Ricky Susan)
A
A
A

CIANJUR  - Sedikitnya 30 kepala keluarga di Kampung Pasir Ipis, Desa Sukasari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, diduga mengalami rawan daya beli, bahkan terancam mengalami kelaparan. Pasalnya, sejak beberapa bulan terakhir, mereka terpaksa mengonsumsi singkong sebagai selingan pengganti nasi.

Menurut informasi yang berhasil diperoleh menyebutkan, kejadian ini berlangsung sejak lima bulan terakhir. Ratusan warga di kampung tersebut terpaksa mengonsumsi singkong, sebagai selingan pengganti nasi, karena dana dan persediaan beras dinilai tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Hal ini diperparah pula dengan minimnya daya beli masyarakat sekitar yang rata-rata hanya berpenghasilan sekitar Rp7.500 per harinya.

Mayoritas, warga di kampung tersebut hanya berprofesi sebagai buruh serabutan. Lokasi kampung yang cukup jauh dan bisa dikatakan terisolir, menyebabkan masyarakat di wilayah tersebut belum merasakan adanya bantuan pemerintah. Kalaupun ada bantuan berupa distribusi beras untuk rakyat miskin (raskin), harganya pun berkisar antara Rp1.700 hingga Rp2.000/kilogram.

"Sejak lima bulan terakhir kami terpaksa memakan singkong, karena kami sudah tidak mampu lagi membeli beras," kata Isah, warga setempat kepada wartawan.

Penghasilan suaminya sebagai buruh serabutan yang hanya berpenghasilan sekitar Rp7.500/hari, menurut Isah, jelas tak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi membeli beras untuk memenuhi kebutuhan makan bersama cucunya.

"Bantuan raskin dari pemerintah pun, tak bisa kami beli, karena harganya dijual sebesar Rp1.700 hingga Rp2.000/kilogramnya. Makanya, daripada kelaparan, kami terpaksa memakan singkong, sebagai selingan pengganti beras," ungkapnya.

Atas kondisi ini, Isah berharap agar pemerintah desa, kecamatan, maupun kabupaten, bisa memperhatikan nasib mereka. Bahkan, Isah pun berharap bisa mendapatkan bantuan.

"Kami tak bisa berbuat banyak dengan kondisi ini. Kami juga belum pernah didata sebagai masyarakat miskin, dan belum pernah mendapatkan bantuan apapun," ucapnya.

Senada diungkapkan Adin, ketua RT setempat. Menurut Adin, warganya terpaksa mengonsumsi singkong karena penghasilan mereka tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "Mudah-mudahan pemerintah bisa memperhatikan nasib warga kami ini," harapnya.

(Fitra Iskandar)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement