YOGYAKARTA - Dua dari lima orang mahasiswa yang tertangkap menjadi joki penerimaan CPNS di Sidrap Sulawesi Selatan Sabtu 12 Desember 2009 dipastikan berasal dari UGM.
Menurut Direktur Kemahasiswaan UGM Haryanto, keduanya masing-masing AE (21) Fakultas Farmasi angkatan 2006 serta DS (21) D3 Fakultas Fisipol angkatan 2005.
Sedangkan dua mahasiswa lainnya SF (22) serta AA (21) masih dilakukan ferifikasi data lebih lanjut. Sementara satu mahasiswa lainnya LH (22) diduga berasal dari IAIN Sunan Gunungjati.
"Yang dua sudah pasti. Tapi dua lainnya masih diferifikasi karena belum sinkron antara nama, NIM, dan fakultasnya dengan database yang dimiliki UGM," ujar Haryanto, Senin (14/12/2009).
Haryanto menjelaskan sesuai aturan yang telah ditandatangani oleh para mahasiswa sebelum masuk ke UGM dahulu kedua mahasiswa itu terancam dikeluarkan (dipecat). Dari klausul perjanjian sebelum masuk UGM disebutkan mereka harus mengundurkan diri jika terbukti terlibat tindak pidana maupun asusila.
"Mereka harus mengundurkan diri jika terbukti terlibat tindak pidana maupun asusila,' katanya.
Meski siap mengeluarkan para mahasiswa tersebut namun pihak UGM masih akan menunggu kepastian hukum kasus tersebut terlebih dahulu. UGM juga mengaku prihatin mahasiswanya bisa terlibat menjadi joki CPNS. Hal ini sekaligus menandakan pendidikan belum bisa sepenuhnya menjadi bumper terhadap sindikat perjokian.
"Moral dan etika ternyata cukup penting mengingat pendidikan belum bisa jadi bumper sepenuhnya kasus perjokian ini," katanya.
Seperti diketahui, setidaknya lima orang yang diduga menjadi joki ujian CPNS yang digelar di Stadion Sidrap Sulsel berhasil ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Ujian itu diperkirakan diikuti 3 ribu peserta untuk memperebutkan 336 formasi.
Para joki yang ditangkap ini diduga merupakan bagian dari sindikat perjokian yang beraksi di Makassar. Apabila calon peserta yang menyewa joki ini lulus, maka para joki itu sedikitnya menerima bayaran Rp10 juta.
(Satria Nugraha/Trijaya/fit)