getting time...

7.000 Wanita Bantul Dibidik Perusahaan Malaysia

Selasa, 15 Desember 2009 21:14 wib

YOGYAKARTA - Sebanyak 7.000 perempuan asal Kabupaten Bantul, Yogyakarta dibutuhkan untuk bekerja di dua perusahaan elektronik Western Digital dan Sony di Kuala Lumpur, Malaysia.
Para tenaga kerja wanita dengan kualifikasi lulusan SMU dengan usia antara 18 hingga 35 tahun itu nantinya akan dikontrak selama dua tahun dengan penghasilan Rp3 juta per bulan.

"Perwakilan kedua perusahaan datang langsung ke Pemkab Bantul dan ditemui Bupati Bantul untuk menawarkan pekerjaan kepada 7.000 wanita asal Bantul untuk bekerja di perusahaan dengan gaji Rp3 juta dengan fasilitas lain seperti rumah tinggal dan fasilitas kendaraan asal jemput," ujar Sekda Kabupaten Bantul, Gendut Sudarta, Selasa (15/12/2009).

Perusahaan Western Digital dan Sony memberi waktu tiga bulan kepada pemerintah kabupaten Bantul untuk melakukan perekrutan dan pengiriman tenaga kerja dan bekerja sama dengan salah satu PJTKI. Nantinya mereka akan melakukan tes dan pelatihan keterampilan sesuai bidang yang nantinya akan dikerjakan.

"Untuk mencapai target, kita mulai hari ini melakukan sosialisasi melalui 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul. Kita berharap tenaga kerja wanita yang akan diberangkatkan nanti berasal dari KK miskin sehingga dapat menekan angka kemiskinan di Bantul," tandasnya.

Lebih lanjut Gendut menyatakan Pemkab Bantul akan memfasilitasi pemberangkatan mereka melalui kerja sama dengan Bank Bantul yang akan memberikan pinjaman sebesar Rp6 juta. Dana itu sebagai modal untuk mencari paspor, tiket pesawat pulang-pergi, dan keperluan lainnya.

"Cara pengembaliannya adalah potong gaji sebesar Rp600 ribu setiap bulannya," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemkab Bantul Didik Warsito menyatakan, Pemkab Bantul tidak akan melepas begitu saja TKW yang nantinya akan dikirim ke Malayasia. Pemerintah akan melakukan pemantauan selama tiga bulan dengan mengantar langsung TKW ke perusahaan yang menampung mereka.

"Penghantar dari Disnakertrans nantinya juga akan meninjau langsung apakah TKW yang didatangkan dari Bantul langsung diperjakan atau tidak? Apakah perkejaannya sesuai dengan apa yang ditawarkan kepada TKW atau tidak?? paparnya.

Didik menyatakan hal ini setidaknya akan mengurangi pengangguran di Kabupaten Bantul yang saat ini mencapai 36.000 orang dengan jumlah KK miskin mencapai 47.000.

"Jika ada masalah dengan TKW dari Bantul di perusahaan mereka bekerja, Pemkab Bantul akan memfasilitasi dengan pemerintah Malaysia setempat atau pun melalui PJTKI yang memberangkatkan mereka di Malaysia," pungkasnya.

(Daru Waskita/Trijaya/ton)

  • Mafatihul Abrar » 0 Tanggapan
    Kami sarankan kepada pemerintah agar, membentuk suasana (iklim) politik dan keamanan yang memadai untuk membuat penanaman modal asing dibidang yang sangat dibutuhkan untuk menyerap tenaga kerja di Indonesia, sehinga para buruh gajinya tidak lagi dipotong untuk alasan transportasi dan biaya pembiatan ID. Malaysia yang baru merdeka hasil pemberian dari Inggris, bisa mensejahterakan buruh dari Indonesia, karena penerapan aturan yang berkualitas. Mengapa Indonesia yang telah 64 tahun merdeka dari hasil perjuangan sendiri, kaya akan bahan hasil bumi yang melimpah dan tenaga (men power) yang lebih besar dari Malaysia,malah jadi seperti ini ? - Terlalu banyak koruptor dan pejabatnya bermental pengemis, sampai mau menerbitkan aturan outsoursing, membentuk mental kuli dan menjadikan kapitalis sebagai dewa.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • heran » 0 Tanggapan
    Knp negara ini tidak bisa mendatangkan investor yg dapat menggaji sebesar itu didalam negeri ?. Kalo kekhawatiran kedua adalah bisa terjadi human trafiking, ato pekerja seks dsb. Seharusnya gubernur jogja melarang ini, jika dia bisa ?.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • noer kesuma » 0 Tanggapan
    Mohon berhati-hati, satu gender jumlah massal, yang umumnya mereka punya latar belakang keterampilan dasar membatik; mereka secara diam-diam dapat diintimidasi untuk menjadi pelaksana produksi tenun batik; ingat Malaysia sudah lebih banyak berbuat tidak sehat secara budaya & peradaban atas hasil karya budaya orisinal Indonesia; sekali lagi, lebih cerdaslah menghadapi tawaran ini, jangan sampai membabi buta hanya karena masalah tingkat sosial ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat bantul.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.