getting time...

Penderita AIDS Pengaruhi Kualitas Hidup Keluarga

Jum'at, 18 Desember 2009 10:27 wib

DEPOK - Keganasan HIV/AIDS tidak hanya memberikan dampak buruk bagi penderitanya. Virus tersebut ternyata juga dapat memberikan dampak buruk kepada anak dari si penderita.

Hal itu diungkapkan Toha Muhaimin, Direktur Pelita Ilmu Foundation dalam disertasi doktoralnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Depok, jawa Barat, Kamis (18/12/2009).

“Dari hasil penelitian saya, terbukti adanya dampak buruk keberadaan penderita HIV/AIDS dalam keluarga, terhadap kualitas hidup anak, baik anak praremaja maupun anak remaja,” ujar Toha saat menyampaikan disertasi di hadapan para pengujinya di Aula FKM UI.

Dalam penelitiannya dia menemukan kualitas hidup praremaja dari keluarga dengan HIV/AIDS menunjukkan 1,6 kali lebih buruk dibandingkan dengan anak dari keluarga tanpa HIV/AIDS. Keluarga yang terkena penyakit ini sebagian besar terpaksa harus membatasi biaya pendidikan dalam keluarga, sebagai dampak dari pengobatan penderita AIDS. Dampak ini biasanya sangat dirasakan anak penderita yang berjenis kelamin perempuan.

“Biasanya, karena adat kita yang patrilineal, masyarakat kita lebih memprioritaskan anak lakilaki untuk sekolah. Sementara yang perempuan disuruh berhenti sekolah bahkan ada yang disuruh bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, seperti yang saya temukan saat studi kasus di salah satu keluarga di Jakarta tahun 2007 lalu,” ungkapnya.

Seorang anak praremaja yang putus sekolah dan bekerja di usianya yang masih belia, kata Toha, tentu sangat memengaruhi kualitas hidup mereka di masa depan. Hal itu karena, pada usia tersebut mereka biasanya cenderung bergantung secara sosial kepada kedua orangtuanya.

Selain faktor tersebut, buruknya kualitas anak juga dipengaruhi pengasuhan. Pada keluarga yang anggota keluarganya tidak terserang HIV/AIDS biasanya akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Sementara pada keluarga yang terdapat penderita HIV/ AIDS dengan kondisi ekonomi yang menurun, praktik pengasuhan yang baik akan sulit dilakukan.

“Pengasuhan anak remaja, baik pada keluarga yang terkena HIV/AIDS maupun tidak, biasanya di lakukan seorang ibu, jika ini terganggu (karena HIV/AIDS), pastinya akan berpengaruh pada masa depan anak-anak,” imbuhnya.

Dalam penelitian Toha, risiko buruknya kualitas hidup seorang anak akan meningkat 1,7 kali lebih besar terhadap anak-anak yang kurang asuhan, dibandingkan anak yang diasuh dengan baik. Risiko ini akan meningkat 2,4 kali lebih besar jika pengasuhnya berpendidikan di bawah SMP. Dalam ujian disertasi tersebut, Ketua Tim Penguji Sudijanto Kamso menambahkan, keberadaan anggota yang terserang HIV/AIDS juga berdampak pada kepala keluarga rumah tangga si penderita.

Pada keluarga yang anggota keluarganya terserang HIV/AIDS, kewibawaan kepala keluarganya akan semakin menurun. “Dari disertasi saudara, kalau boleh saya menyimpulkan, kepala keluarga dari rumah tangga yang terkena HIV/AIDS akan menurun kewibawaannya,” ucapnya.

Setelah berhasil mempertahankan disertasinya, Toha pun dianugerahi gelar doktor di bidang ilmu kesehatan masyarakat oleh tim penguji yang diketuai Sudijanto Kamso dan beranggotakan Arwin Akib, Irwanto, dan Kemal N Siregar.
(Koran SI/Koran SI/ded)