JAKARTA - Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, sejak Sabtu lalu, pada siang ini resmi ditutup. Sejumlah rekomendasi pun telah dirumuskan dan siap dilaksanakan di masing-masing negara para peserta.
Hadir dalam acara penutupan, perwakilan dari negara Libanon, Iran, dan Syria. Adapun pemerintah Indonesia diwakili Dirjen Bimas Islam Departemen Agama Nazarudin Umar. Hadir pula Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.
Seremonial penutupan dilakukan dengan pembacaan doa. Namun sebelumnya, panitia acara membacakan secara singkat sejumlah rekomendasi konferensi.
Di antaranya, tentang pentingnya persatuan umat Islam dalam menghadapi fitnah keagamaan, tidak boleh ada perpecahan di intern umat sehingga harus tolong menolong dalam segala aspek kehidupan serta menjauhkan dari unsur primordialisme.
“Tujuan dari acara ini mencoba untuk mengidentifikasi program krusial masyarakat Islam di dunia. Lalu mencari solusi dari masalah tersebut. Konflik sesama umat Islam di Irak dan Timteng seharusnya tidak terjadi kalau tidak ada faktor politik dan kekuasaan,” ujar Ketua Panitia acara Arif Zamhari di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (20/12/2009).
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyatakan optimistis forum ini akan memberikan kontribusi riil dalam perdamaian di negara-negara Islam. Pasalnya para peserta konferensi merupakan para ulama terkemuka. “Saya optimis dengan proses ini,” ungkapnya.
Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia terselenggara berkat kerjasama PBNU dengan At Taqrib Baina Madhahib Al Islamiyah atau The World Forum for Proximity of Islamic Schools of Thought yang berpusat di Iran.
Sebanyak 100 ulama dan cendekiawan telah diundang dalam acara bertajuk Upholding Solidarity and Unity in the Moslem World ini. Di antaranya dari Iran, Mesir, Syiria, Lebanon, Libya, Irak, Palestina, Jordan, Malaysia, Thailand, Philipina, Singapura dan Indonesia.
(ful)