Nasir Djamil Dukung Penghentian Infotainment Gosip

M Budi Santosa - Okezone
Minggu, 27 Desember 2009 18:51 wib

JAKARTA - Menanggapai adanya desakan agar Departemen Komunikasi dan Informasi  menertibkan dan juga menghentikan tayangan infotaiment yang sarat memberitakan gosip, anggota Komisi Hukum dan Ham Nasir Djamil, mendukung desakan tersebut.

"Kita harus prihatin dan ikut berkomitmen menjaga moral bangsa," ujarnya dalam rilis yang diterima okezone, Minggu (27/12/2009).

Menurut Nasir, infotainment yang sekarang banyak disiarkan di televisi, cenderung  menumbuhkan budaya hedonisme dan permisifisme. Hal itu tentu tidak sejalan dengan upaya pemerintah untuk membangun dan menumbuhkan karakter bangsa yang didasari dengan nilai-nilai agama.

"Saya mengimbau kepada pemilik stasiun tv segera menghentikan tayangan infotaiment yang destruktif. Sebagai gantinya hiburlah pemirsa tv dengan infotainment yang bernilai edukasi dan empati sosial. Media massa memiliki pengaruh dalam pembentukan opini dan selera masyarakat. Kembalikan fungsi edukasi media televisi agar kita  bisa sejajar dengan negara-negara maju lainnya," ujar politisi PKS tersebut.

Nasir juga tidak setuju jika dalam hal penghentian tayangan infotainment yang negatif itu haruslah didasari oleh laporan masyarakat ke Dewan Pers atau Komisi Penyiaran Indonesia. Menurutnya, tugas negara dan  pemerintah adalah menjaga agar pikiran dan moralitas rakyatnya terjaga dari anasir-anasir negatif.

"Kalau para ulama, tokoh pendidikan dan masyarakat menilai infotainment yang  ditayangkan sekarang lebih banyak negatifnya, maka tanpa dilaporkan masyarakat pemerintah harus berani mengambil langkah tegas dengan cara meminta agar stasiun yang menayangkan tersebut menghentikannya," ujar dia.

Karenanya, kata Nasir, presiden melalui Depkominfo harus berani mengambil langkah tegas dan cerdas. "Apakah pemerintah rela melihat masyarakatnya setiap hari disuguhi dengan informasi yang sarat dengan gosip dan menggunjing keburukan orang lain. Kalau iya, itu sama artinya mereka senang melihat rakyatnya dalam kebodohan," ujar Nasir Djamil.
(mbs)

  • asykurialwi » 0 Tanggapan
    setuju banget tu tayangan dihentikan, jgn hanya pertimbangan bisnis semata, mari warga nahdiyin dukung ulama 2 kita yg sdg berusaha meluruskan kebenaran dan menghentikan kebatilan.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • mrprihatin » 0 Tanggapan
    Salah satu bentuk kemiskinan , mnrt sy adalah kemiskinan budaya, etika, tata krama etc..sy prihatin dg infotainment yg lebih mengarah pd ajaran hedonisme, membicarakan kebrkn orang, info gaya hdp yg jauh dari moralitas yg santun..etc...sebaiknya sedikit demi sedikit dihilangkan...tayangkan info positif yg membangun nilai2 kehidupan yg baik..
    Beri Tanggapan Laporkan
  • boyang » 0 Tanggapan
    @Mbah Dipo : sepakat... tumben saya sepakat sama DPR..., tumben DPR bisa berpikir cerdas, ah bukan cerdas, minimal benerlah
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Djamalauddin jRambe » 0 Tanggapan
    Penayangan di TV yg mengupas tentang gosip dan keburukan orang lain meupakan info yg meracuni pemirsa dan tdk memiliki manfaat bahkan menimbulkan mudarat, termasuk penayangan yg menampilkan kemelut / rahasia dlm keluarga yg dipresenteri Helmi Yahya ?
    Beri Tanggapan Laporkan
  • dedi wajidi » 0 Tanggapan
    akuuuur.... indonesia ini negara berdasarkan Pancasila , jadi etika kita harap sejalan dengan Pancasila , bukan gosip22 orang lain disuguhkan kepada Rakyat yang ga perlu tahu, fahammmmm, NEGARA ,begitu bunyinya harus tegas jangan terkecoh demokrasi-demokrasi yamg ga ada aturan. kita berdemokrasi tapi azas kita Pancasila anak sd juga dah tahu itu...
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.