KULONPROGO - Kadipaten Puro Pakualam Yogyakarta, tadi siang menggelar ritual labuhan Hajat Dalem Pakualam di pantai Glagah Kulonprogo. Aneka sesaji, dan uba rambe dilarung (buang ke laut) sebagai bentuk rasa syukur. Ritual inipun, banyak diburu masyarakat untuk ngalap berkah.
Proses labuhan kali ini, diawali dari Pesanggrahan Pakualam di Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Di Lokasi ini, tiga buah gunungan diserahkan dari kerabat Pakualam kepada pemerintah Desa Glagah. Selanjutnya diarak sejauh tiga kilometer menuju Pantai. Sebelum dilarung, aneka uba rampe ini diberkati doa terlebih dahulu.
Pada barisan pertama, arak-arakan, adalah Prajurit Lombok Abang, tiga buah gunungan, disusul Prajurit Plangkir dan keluarga di paling belakang. Sepanjang perjalanan prajurit ini terus memukul aneka gamelan dan alat musik yang dibawanya.
Sampai di Joglo Labuhan, Tiga gunungan ini diturunkan, untuk diberikan doa. Gunungan pertama, merupakan gunungan hasil bumi yang berisi aneka buah dan umbi-umbian. Sedangkan gunungan kedua merupakan gunungan padi, sebagai perwujudan syukur kepada Dewi Sri. Serta yang ketiga Gunungan Pengagem (pakaian) berupa kain dan selendang. Di Joglo labuhan ini sendiri sudah ada aneka sesaji, mulai dari kembang setaman, tumpeng rombyong, jajan pasar hingga beberapa uba rampe pendukung.
Usai diberikan doa, tiga gunungan ini langsung diarak menuju pantai, sebelum dilabuh. Tiga nelayan lokal yang ditunjuk langsung membawa gunungan ini ke tengah. Warga sendiri saling berebutan di pinggir, setelah tiga gunungan ini diterjang ombak. Selain gunungan, ikut dilabuh aneka sukerto. Mulai dari guntingan kuku, rambut hingga beberapa kotoran lain.
"Tujuan labuhan untuk membuang semua kotoran ke samudera, sekaligus ungkapan ras syukur kepada Tuhan," ujar Pengarep Hajat Dalem Puro Paku Alam Sestro Dirjo.
Menurutnya, tradisi ini sempat terputus selama sepuluh tahun. Namun mulai tahun ini, tradisi ini kembali dilaksanakan. Saat tidak ada ritual dari Puro, masyarakat lokal hanya menggelar acara yang sangat sederhana. Ke depan, rangkaian ini akan dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi Puro Pakualaman. Kegiatan ini akan dilaksanakan setiap tanggal 10 bulan Muharram.
Aneka uba rampe yang dilarung, diyakini warga masih memberikan berkah. Winarti misalnya, cukup bangga mendapatkan beberapa tangkai padi, dan kacang panjang. Rencananya, padi ini akan disimpan, sebagai kenang-kenangan dan akan dirawat dengan baik. Kakek neneknya dulu pernah memiliki beberapa barang sejenis, yang dipercaya bisa mendatangkan berkah.
"Ini akan memberikan berkah tersendiri, bagi ketentraman dan dimudahkan rejeki," jelas warga Temon ini.
(Kuntadi/Koran SI/mbs)