Heri, penderita tumor yang lumpuh setelah berobat di RSHS (Gin Gin Tigin Ginulur)
BANDUNG - Heri Hermanto (21) tampak terbaring lemas di atas kasur. Hampir seluruh kepalanya ditutupi perban. Tumor ganas yang menggerogoti kening kanannya sudah nyaris menutupi mata. Berselimutkan sarung, sesekali Heri mengerang memanggil ibunya. Nada suaranya tak jelas, seperti orang cadel.
Sejak lima bulan lalu, putra ketiga pasangan Nana Supriatna (47) dan Ain Sukaesih (44) ini tak bisa beraktivitas normal. Usai menjalani perawatan sinar ultraviolet sebanyak sembilan kali di RS Hasan Sadikin, Heri ambruk. Berat badannya merosot dan separuh tubuhnya lumpuh. Padahal awalnya, proses sinar tersebut dilakukan sebagai upaya mematikan tumor di kening kanan Heri yang terus membesar.
“Antara bulan Juni-Juli anak saya disinar. Itu atas petunjuk bagian onkologi RSHS yang menangani tumor anak saya. Waktu pertama kali disinar, dia baik-baik saja. Bahkan perginya juga pakai motor ke RSHS,” kata Nana, ayah Heri, kepada wartawan di rumah kontrakan menantunya, Jalan Majalaya 9 Nomor 18 Bandung, Kamis (7/1/2010).
Menurut Nana, kondisi Heri mulai menurun saat ia menjalani proses sinar ultraviolet yang ke-6. Waktu itu, kata Nana, Heri mulai mengeluhkan kondisi kakinya yang sering kesemutan. Selain itu, Heri juga mengaku sering pingsan usai disinar.
“Kalau disinar itu setiap hari. Nah, saat disinar yang ke-6, Heri sudah mengeluh. Kondisi badannya melemah. Kakinya juga sering kesemutan. Saya kemudian sempat tanya dokter bagian sinar, katanya teruskan saja,” kata Nana.
Lantaran dokter di bagian sinar menyarankan Heri kembali menjalani proses tersebut, Heri pun kembali disinar sampai 9 kali dari rencana 21 kali proses sinar ultraviolet. Pada proses penyinaran yang ke-9 itulah, tubuh Heri mulai dari dada sampai kaki sudah mati rasa dan tak bisa digerakkan.
Saya tanyakan lagi sama dokter di bagian sinar, jawabannya nanti akan dikonsultasikan dengan bagian onkologi yang menyarankan Heri disinar. “Sampai sekarang, tidak ada penjelasan dari dokter di bagian onkologi mengenai kondisi anak saya,” kata Nana.
Keluarga Nana sendiri tinggal di Kampung Peundeuy RT 1/5 Desa Tanjunglaya Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung. Selama berobat ke RS Hasan Sadikin, Nana menggunakan fasilitas kartu keluarga miskin daerah (gakinda).
(teb)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan