JAKARTA - Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Harry Bhakti, menyatakan perselisihan antara Freeport dan Garuda hanya kesalahan komunikasi.
Pada 3 Januari lalu Garuda tidak mendapat avtur di Bandara Timika, Papua, karena keterbatasan ketersediaan.
“Tadi kami sudah ada kata sepakat bahwa persoalan utama yang terjadi di Timika, adalah keterbatasan bahan bakar avtur,” kata Harry Bhakti dalam konferensi pers di Kantor Departemen Perhubungan, Jakarta Pusat, Kamis (7/1/2010).
Dia menambahkan ke depan pihaknya akan menindaklanjuti bersama, agar kejadian tidak terulang kembali. Misalnya dengan menghubungi Pertamina untuk menjamin pasokan avtur.
Terkait penerbangan ke Papua ini, agar tidak terganggu, Garuda juga akan memulai efektif penerbangan ke Timika mulai Jumat malam.
Bandara Timika sendiri dimulai dari bandara khusus yang dikomersilakn menjadi bandara umum menyusul terbitnya UU Nomor 1 Tahun 2009.
“Kami akan mengevaluasi lagi tentang bandara umum. Kami sudah meminta Direktur Bandara Timika untuk mengevaluasi syarat-syarat sebagai bandara umum itu ke depannya,” tandas Harry.
Menurutnya, akan dievaluasi lagi stok minimum bahan bakar yang diperlukan dan meminta jaminan apakah Pertamina siap membantu.
“Ke depan, akan dilihat kebutuhan fuel di Papua agar bisa teratasi. Kalau Pertamina tidak bisa, bisa yang lain, seperti Shell dan Petronas,” jelas Harry Bhakti.(ton)
(mbs)