JAKARTA - Desakan masyarakat yang menginginkan Gus Dur diangkat sebagai pahlawan nasional memicu efek domino. Sejumlah pihak pun ramai-ramai mengusulkan tokohnya diberi gelar pahlawan nasional.
Fenomena ini tak pelak membuat publik Indonesia disuguhi drama pengajuan sejumlah tokoh masyarakat sebagai pahlawan nasional. Tilik saja usulan Partai Golkar agar mantan Presiden Soeharto diangkat sebagai pahlawan nasional.
Suara serupa juga muncul dari para petinggi PPP yang menginginkan agar almarhum Syafrudin Prawiranegara dianugerahi gelar pahlawan nasional atas jasa-jasanya. Gerakan terbaru muncul dari elemen angkatan 1966. Dari Bandung mereka mendesak pemerintah agar mengangkat almarhum Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo sebagai pahlawan nasional.
“Kalau saya melihat ini kan memang euforia gelar pahlawan, padahal sudah ada prosedur gelar pahlawan. Ya ikuti prosedur yang ada saja,” ujar mantan Juru Bicara Gus Dur, Adhie Massardie kepada okezone di Jakarta, Senin (11/1/2010).
Menurut Adhie, fenomena ini tidak lepas dari kecemburuan sosial sejumlah pihak, lantaran Gus Dur mendapat perlakuan istimewa. “Yang lain-lain merasa iri saja,” ujarnya.
Bagi Adhie, gelar pahlawan harus diberikan setelah melalui seleksi ketat. Seperti tidak pernah tersangkut kasus korupsi dan melanggar konstitusi. Pasalnya ada implikasi bagi seseorang yang telah mendapatkan gelar.
“Karena itu, kami menolak pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur sebelum ada pelurusan tentang kasus Brunaigate, Bullogate, dan impeachment pada tahun 2001,” ujarnya.
(ful)