getting time...

Pengakuan Mantan Napi

'Ada Kasih Sayang, Semua Lancar'

Gin Gin Tigin Ginulur - Okezone
Rabu, 13 Januari 2010 14:46 wib
sel.(ilustrasi:ist)
sel.(ilustrasi:ist)

BANDUNG - Fasilitas berbeda yang cenderung mewah ternyata tidak hanya ditemukan di Rutan Pondok Bambu. Di Rutan Kebon Waru Bandung Jalan Jakarta, napi dan tahanan titipan jaksa bisa mendapatkan fasilitas berbeda. Tentu saja semua fasilitas tersebut ada syaratnya. Apalagi kalau bukan uang.

Pengakuan mengenai perbedaan fasilitas tersebut diungkapkan salah seorang mantan napi yang pernah mendekam di Rutan Kebon Waru selama empat bulan. Menurutnya, saat pertama masuk ke Rutan Kebon Waru pada Maret 2008, dia bersama sekitar 100 napi lainnya dimasukkan ke ruang karantina.

Ruang karantina itu ukurannya sangat kecil, paling sekitar 5x5. Di sana kemudian masuk sekitar 100 napi. Bisa dibayangkan untuk ukuran kamar sebesar itu dengan jumlah 100 orang. Istilahnya sama sekali tidak ada tempat buat bernapas, kata pria berusia sekitar 26 tahun yang identitasnya diminta disembunyikan tersebut, saat ditemui di Bandung, Rabu (13/1/2010).

Di ruang karantina tersebut kemudian seorang korpe atau napi yang dianggap sudah baik mendatangi satu per satu para tahanan. Ia kemudian menawarkan pindah ke ruang bagian atas yang lebih bebas dengan syarat membayar sejumlah uang.

Jadi di ruangan karantina itu ada ruangan bagian atas. Kalau di sana lebih leluasa.“Tidurnya bisa lebih bebas ketimbang di bawah yang memuat 100 napi. Saat ditawari pindah, saya langsung mengiyakan. Saya kemudian bayar Rp1 juta pada korpe tersebut,” tandasnya.

Selama satu minggu tinggal di ruang karantina bagian atas, dia mengaku tidak betah. Kemudian, dia kembali ditawari pindah ke blok dengan syarat yang sama yaitu uang. Masing-masing blok harganya berbeda-beda. Dia mengaku memilih blok A dengan harga Rp250 ribu, serta uang sewa Rp80 ribu.

“Masing-masing blok kan jumlah kamarnya berbeda-beda. Harganya juga beda-beda. Tapi saya tidak tahu harga yang lainnya. Saya hanya bayar buat pindah ke blok A dengan membayar Rp250 ribu plus Rp80 ribu buat pembantu,” akunya.

Jika dibandingkan, biaya hidup di Rutan Kebon Waru ternyata, menurutnya lebih besar ketimbang biaya hidup di luar rutan.

Menurut dia, selama berada di Rutan Kebon Waru rata-rata dirinya harus mengeluarkan uang sebesar Rp1 juta lebih. Hal itu, kata dia, belum termasuk uang untuk bayar harga kamar.

Rata-rata Rp1 juta lebih. Itu di luar bayar uang kamar. Sebetulnya ada lagi fasilitas lain. ”Kalau saat masuk ke rutan tidak mau masuk ke ruang karantina, napi harus membayar Rp3 juta. Dia langsung masuk ke blok,” katanya.

Dia menambahkan, meski ada aturan besuk tidak dipungut bayaran, pada praktiknya ada pungutan untuk sekali besuk. Namun, kata dia, bayaran tersebut dibebankan kepada napi.

“Rata-rata Rp70 ribu. Rinciannya kalau tidak salah, Rp30 ribu untuk tiga petugas pos dan Rp40 ribu untuk keluar kamar,” kata dia.

Selain harus bayar untuk mendapatkan kamar yang layak, ternyata ada pula kamar VIP yang biasanya dihuni oleh para napi berduit. Di kamar VIP tersebut, para napi mendapatkan fasilitas yang cukup mewah seperti nonton TV nonstop, WC yang bersih, pembantu, kipas angin, dan penggunaan handphone.

“Ada kamar mewah dan saya juga sempat menghuninya sampai akhirnya keluar. Di sana, fasilitasnya cukup banyak, mulai dari TV 21 inc, musik, WC yang bersih, dan tidak dikunci, sehingga kita bisa berkeliling di lingkungan rutan. Kamar itu dihuni oleh sekitar 5 orang napi,” kata mantan napi yang minta namanya dirahasiakan itu.

Menurutnya, harga kamar VIP tersebut berkisar antara Rp5 sampai 10 juta. Jumlah uang tersebut, kata dia, belum termasuk uang makan sebesar Rp250 ribu per minggu yang dibayarkan kepada korpe atau napi yang dipercaya oleh petugas rutan.

“Kita bisa makan enak. Kita pesan ke korpe, nanti dia yang akan membelikannya keluar. Misalnya mau pesan ayam goreng atau makanan enak lainnya kita bisa pesan,” aku dia.

Dia menambahkan, di Rutan Kebon Waru terdapat istilah ‘Ada kasih sayang, semua lancar’. Kasih sayang yang dimaksud, kata dia, berupa uang.

Lebih jauh dia mengatakan, kamar VIP itu berada di belakang rutan. Rata-rata, lanjutnya, kamar itu dihuni oleh napi-napi kasus penipuan yang memiliki uang berlebih.

“Sampai akhirnya keluar, saya berada di kamar VIP tersebut,“ kisahnya.

(fit)