SURABAYA - Diam-diam ternyata Jembatan Suramadu sejak dioperasikan pertengahan 2009, sampai saat ini sudah enam kali ditutup akibat angin kencang di Laut Jawa. Namun, penutupan ini hanya berkisar antara 20 sampai 30 menit saja.
Kepala Gerbang Tol Jembatan Suramadu PT Jasa Marga Suhariyono mengatakan, penutupan yang sering dilakukan berada pada jalur roda dua, sedangkan penutupan total termasuk jalur roda empat hanya satu kali.
Jika kecepatan angin melebihi 40 knot, petugas yang melakukan patroli segera memperingatkan pada masyarakat yang masih melintasi di tengah jembatan melalui pengeras suara agar mereka lebih berhati-hati atau mengurangi laju volume kendaraannya.
”Bagi roda dua, jembatan akan ditutup apabila kecepatan angin sudah diatas 40 knot,” katanya, Rabu (13/01/2010).
Untuk mengetahui tentang kecepatan angin, sebelumnya pelaksana proyek telah memasang anemometer atau alat pengukur kecepatan angin di tengah-tengah jembatan. Dengan alat tersebut petugas pengelola jembatan dapat mengetahui kapan saatnya jembatan akan ditutup akibat cuaca buruk.
Dia menjelaskan, berdasarkan prosedur keselamatan resmi yang berlaku di Suramadu, apabila terjadi kabut dan angin kencang di atas 40 kilometer per jam, maka jalur sepeda motor harus ditutup, karena kecepatan angin itu bisa menghilangkan keseimbangan pengendara sepeda motor.
Selain itu, jarak pandang juga pendek karena kabut. Setelah hujan mereda dan kabut berkurang jalur sepeda motor akan dibuka kembali, sehingga masyarakat tidak perlu cemas.
Namun Suhariyono tetap mengingatkan, jika saat hujan lebat disertai angin kencang, masyarakat yang hendak melintasi Jembatan Suramadu hendaknya mereka mempertimbangkan atau mencari informasi terbaru dari radio maupun sejenisnya tentang perkembangan operasional jembatan.
”Kami selalu melaporkan perkembangan terbaru tentang operasional jembatan pada beberapa radio lokal maupun nasional lebih saat cuaca buruk,” tegasnya.
(teb)