getting time...

Pelayanan Bus Transjakarta Merosot

Jum'at, 15 Januari 2010 05:59 wib

JAKARTA – Pelayanan bus Tansjakarta selama enam tahun terakhir ini dinilai menurun.Berdasarkan survei dan pantauan Institut Studi Transportasi (Instran),pelayanan bus Transjakarta berjalan mundur.

Direktur Eksekutif Instran Darmaningtyas menyatakan, selama enam tahun berjalan keberadaan Transjakarta tidak lebih baik. Sebaliknya, justru semakin buruk, atau berjalan mundur.

Beberapa indikator menurunnya pelayanan, yakni jarak kedatangan antar bus (headway) yang makin lama, jalur bus tidak steril, waktu tempuh tidak terjamin, banyak halte kotor dan dipenuhi PKL, lambannya masalah ticketing Koridor IV-VIII sehingga menyebabkan antrean calon penumpang serta tersendatnya pasokan bahan bakar gas (BBG).

“Berdasarkan pengamatan kami, justru pelayanan bus Transjakarta berjalan mundur,” ujar Darmaningtyas dalam keterangan pers di Jalan Veteran, Jakarta Pusat, kemarin. Berdasarkan hasil penelitian Instran, rata-rata headway yang tercatat dari beberapa koridor berkisar antara 5-13 menit.

Headway terlama terpantau di Koridor VIII (Lebak Bulus–Harmoni) pada bulan Maret 2009, yakni sampai 42 menit. Padahal,masyarakat memilih naik bus Tansjakarta karena faktor kecepatan. “Namun, kalau ternyata lebih lama, maka antusiasme masyarakat terhadap buswayakan berkurang,” tambahnya.

Dia menjelaskan, telatnya headway dipicu oleh ketidakdisiplinan masyarakat. Salah satu penyebabnya, adalah penyerobotan busway yang dilakukan kendaraan bermotor. Menurut Darmaningtyas, sterilisasi jalur mutlak dilakukan untuk meningkatkan pelayanan Transjakarta. Selain itu, Instran menyoroti masalah keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.

“Setiap tahun tingkat kecelakaan selalu mengalami kenaikan.Bahkan, beberapa armada pernah terbakar,” ungkapnya. Pihaknya bahkan menengarai adanya pemborosan hingga Rp30 miliar setiap tahun karena banyaknya empty kilometer.

Hal ini harus segera diatasi agar tidak berimbas pada membengkaknya subsidi APBD. Di tempat yang sama, peneliti Instran Izzul Waro menambahkan, sterilisasi buswaymutlak dilakukan.

Karena itu, Badan Layanan Umum (BLU) harus secara konsisten mensterilkan busway. “Ketika Transjakarta tidak mampu memberikan jaminan kecepatan sebagai akibat dari jalur yang tidak steril, orang lebih baik naik kendaraan pribadi, baik motor dan mobil,” ujarnya.

Dia berpendapat, meskipun armada bus Transjakarta ditambah, tapi kalau jalur tidak steril, maka akan tersendat. Akibatnya, bakal terjadi penumpukan penumpang di halte maupun antrean buswaydi setiap koridor.

Pihaknya juga menyinggung masalah ticketing yang masih dilakukan metode manual. Menurut dia, sistem manual tersebut berpotensi menyebabkan kebocoran dan terjadinya antrean panjang. “Kalau kita mencontoh Kota Bogota, di sana sudah menggunakan e-ticketing sehingga seluruh data penumpang bus Tansjakarta bisa diketahui,” ujarnya.

Sementara itu, Manajer Pengendalian BLU Transjakarta Gunarjo mengakui bahwa penyerobotan busway menjadi kendala utama. “Seharusnya, busway steril dari kendaraan lain, tetapi faktanya penyerobotan jalur kerap terjadi,” paparnya.

Untuk mengurangi penyerobotan jalur, pihaknya tetap mengoptimalkan penggunaan portal baik manual maupun elektrik. Selain itu, koordinasi dengan pihak kepolisian, Dinas Perhubungan terus ditingkatkan untuk meminimalisasi penyerobotan jalur.
(Koran SI/Koran SI/ram)