JAKARTA - Kendati disangkal habis-habisan, namun isu perombakan komposisi anggota Pansus Hak Angket Century oleh sejumlah partai kental dengan nuansa politis. Kabar bahwa rotasi atas permintaan Istana pun sempat merebak.
Para petinggi partai kabarnya khawatir jatahnya di kabinet bakal terusik bila anggotanya yang berada di pansus terlalu kencang berlari. Selentingan ini pun semakin dikuatkan dengan isyarat yang dilontarkan Presiden agar pansus tidak memperlakukan saksi Hak Angket Century layaknya para terdakwa di pengadilan.
Secara normatif para petinggi partai memang menyatakan pergantian anggota pansus dalam rangka penyegaran semata. Namun, dalam pandangan publik, perkara apa sih yang tidak politis di gedung DPR?
Seperti diketahui, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memutuskan menarik dua wakilnya di pansus Century dan menggantinya dengan dua orang baru. Marwan Ja’far diganti Agus Sulis dan Anna Muawanah digantikan Muhammad Toha.
Kebijakan serupa juga diikuti Partai Amanat Nasional (PAN). Chandra Tirta Wijaya ditarik dari keanggotaan pansus. Partai Golkar pun tak mau ketinggalan. Bambang Soesatyo yang terkenal vokal di pansus, akhirnya diganti Aziz Syamsudin. Belakangan PKS juga dikabarkan bakal menerapkan strategi serupa.
Dalam permainan apapun memang diperlukan taktik dan strategi. Termasuk dalam permainan yang diberi judul Hak Angket Century. Meski begitu, pergantian sejumlah pemain inti di tengah-tengah permainan tentu akan berisiko terhadap harmoni tim secara keseluruhan. Apalagi tim lawan bermain cukup solid. Pemain yang baru masuk tentu membutuhkan waktu untuk tune in dengan irama permainan.
Risiko kekalahan akan semakin besar apabila materi pemain pengganti ternyata tidak lebih baik dari yang digantikan. Terlebih bila kualitas mereka jauh dari yang diharapkan pelatih. Bisa-bisa tim Hak Angket Century akan kedodoran dan akhirnya kalah telak dengan para perampok uang negara.
Mengikuti alur kasus Century saja cukup menyita waktu, tenaga, pikiran, dan kejelian. Itu karena kompleksitas kasus yang melibatkan sejumlah institusi serta istilah-istilah perbankan yang cukup njlimet.
Dari sini tentu akan sulit bagi para pemain baru yang masih hijau untuk memahami alur kasus serta seluk beluknya. Parahnya lagi kalau pemain pengganti yang disodorkan parpol-parpol di atas ternyata tidak memiliki latarbelakang pengetahun ekonomi. Kasihan para staf ahli mereka yang akan menjadi korban nantinya.
Kerugian terbesar tentu rakyat Indonesia yang akan menanggung apabila tim Hak Angket Century tidak produktif. Sebab uang Rp6,7 Triliun yang menjadi pertaruhan bisa lenyap dan tidak ketahuan siapa yang harus bertanggungjawab.
Namun tidak elok kiranya mencibir sebelum melihat performa permainan para pemain baru tim Hak Angket Century. Biarlah bersama-sama kita menonton, apakah para pemain memang layak masuk tim karena memiliki skill lebih dari para pendahulunya. Dan tentu saja, dari situ akan kelihatan apakah sang pelatih (parpol) bertindak tepat mengganti para vokalis Hak Angket Century. Atau pergantian ini semata-mata hanya atas instruksi pelatih tim lawan?
(ful)