Polres Kulonprogo Ungkap Peredaran Ayam Tiren

Sabtu, 16 Januari 2010 23:13 wib

KULONPROGO - Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Kulonprogo, berhasil mengungkap peredaran daging ayam bangkai yang dikenal dengan ayam tiren.

Polisi juga menyita barang bukti berupa bangkai ayam, dan daging yang sudah dimasak. Hingga kini petugas masih melakukan pemeriksaan dan penyidikan guna pengembangan lebih lanjut.

Ratusan ayam bangkai ini disita petugas dari rumah Rubini (44) warga Kalisoka, Kecamatan Pengasih Kulonprogo Yogyakarta. Dari tangan tersangka petugas juga menyita sekitar 40 ekor ayam broiler yang sudah menjadi bangkai. Sebagian lainnya sudah diolah dan siap diedarkan.

"Pengungkapan ini berawal dari informasi warga sekitar, yang kerap mencium bau busuk. Ketika dicek ternyata, ada praktek penjualan ayam tiren," jelas Kapolres Kulonprogo AKBP Darmanto didampingi Kanit II Reskrim Nandang, Sabtu (16/1/2010).

Saat dilakukan penggerebekan di rumah korban, ditemukan sekitar 40 ekor ayam yang sudah menjadi bangkai. Sebagian lainnya sudah dimasak dengan cara digoreng dan siap diedarkan.

Rencananya daging ayam tiren ini, akan dijual di Gamping Sleman, dan stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Petugas juga menyita peralatan memasak berupa panci, penggorengan dan pisau yang diduga digunakan untuk memproses.

Menurut Darmanto, tersangka akan dijerat dengan pasal 21 ayat d Undang-undang RI nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan, jo pasal 55 KUHP. Ancaman hukumannya bisa berupa pidana kurungan penjara, maksimal lima tahun.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Kulonprogo AKP Suhadi mengaku, pihaknya masih melakukan pemeriksaan secara intensif. Hasil pengakuan tersangka, ayam bangkai ini dijual dengan harga berkisar Rp10 ribu sampai dengan Rp12 ribu per ekornya. Harga ini sangat murah dibanding dengan harga daging mentah segar yang mencapai Rp 18 ribu per ekornya.

Menurut pengakuan tersangka, kata dia, selama proses pengolahan diberikan bumbu dan pewarna kuning. Cara ini dilakukan untuk menghilangkan eksan warna pucat dan menarik pembeli.

"Kami masih periksa secara intensif, untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan di Kulonprogo," tegasnya.
(Kuntadi/Koran SI/hri)