getting time...

Darah PMI Blitar Tercemar HIV/AIDS

Senin, 18 Januari 2010 16:47 wib
Kantong darah.(ilustrasi:ist)
Kantong darah.(ilustrasi:ist)

BLITAR - Sejumlah kantong darah yang masuk di Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kabupaten Blitar tercemar virus HIV/AIDS.
 
Yang mengejutkan, darah berpenyakit mematikan tersebut, diduga berasal dari lingkungan pendidikan dan keagamaan. Sebab, selain mengandalkan pendonor aktif (datang ke PMI), sebagian besar stok darah PMI bergantung dari upaya jemput bola petugas ke sejumlah sekolah dan organisasi keagamaan.
 
Menurut keterangan Kepala tekhnis Laboratorium UTD PMI Cabang Kabupaten Blitar Sussy Yanti, temuan darah yang tercemar tersebut terjadi di tahun 2010 ini. Karena alasan etika, Sussy menolak membeberkan identitas pemilik darah.
 
“Yang pasti setelah kami pastikan terinfeksi HIV/AIDS, kita langsung melakukan pemusnahan terhadap darah yang tercemar itu,” ujarnya kepada Seputar Indonesia, Senin (18/1/2009).
 
Sebagai prosedur tetap yang belaku, PMI langsung melaporkan temuanya tersebut ke Dinas Kesehatan. Untuk selanjutnya, kata Sussy dinas melakukan penanganan dan pengawasan terhadap pendonor yang mengidap HIV/AIDS tersebut.
 
“Langkah itu sebagai antisipasi adanya penularan kepada warga yang sehat. Tugas PMI hanya sebatas melaporkan. Semua tindak lanjut ada di dinas,” papar Sussy.
 
Selain HIV/AIDS, penyakit Hepatitis A dan B, serta Sipilis dan Raja Singa yang paling sering menginfeksi darah. Seperti halnya prosedur untuk darah yang mengandung HIV/AIDS, petugas PMI juga langsung melakukan pemusnahan. “Kami dapat mengetahui ini cukup dengan melakukan tes darah dengan alat reagen,” pungkas Sussy.
 
Dalam setiap hari jumlah darah yang masuk ke UTD PMI Cabang Kabupaten Blitar mencapai 50 kantong dengan setiap kantongnya berisi 250 cc. Sedangkan permintaan setiap harinya mencapai 10-25 kantong.
 
Dari data yang berhasil dihimpun Seputar Indonesia, hingga Desember 2009 jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Blitar, termasuk satu orang PNS mencapai 157 orang. Jumlah itu meningkat dibanding tahun sebelumnya. Dari semuanya itu, 41 orang diantaranya meninggal dunia.
 
Sementara 116 orang sisanya menjalani perawatan rutin di klinik visite RSUD Ngudi Waluyo Blitar. Para penderita HIV/AIDS ini berasal dari kalangan Pekerja Seks Komersial (PSK), TKI dan ibu rumah tangga yang tertular suaminya.
 
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Kuspardani belum bisa dikonfirmasi. Namun dalam wawancara sebelumnya mengenai HIV/AIDS, Kuspardani mengatakan jika selain pengobatan, para penderita juga memperoleh bimbingan dan penyuluhan secara rutin.
 
Kuspardani juga mengatakan jika mahalnya reagen (alat tes HIV/AIDS), termasuk jumlah yang terbatas yang menjadi kendala dinkes bekerja secara optimal.”Kami sampai kehabisan reagen dan minta pada pemerintah pusat,” ujarnya.

(Solichan Arif/Koran SI/fit)