JAKARTA - Sejumlah ilmuwan terkemuka di Eropa mengeluarkan peringatan bakal terulangnya gempa serta tsunami yang menghantam pantai barat Sumatera. Namun, pakar gempa Universitas Indonesia tidak begitu saja mempercayai prediksi ini.
“Soal prediksi tidak bisa dipercayai 100 persen, kalau kemungkinan terjadi bisa iya, bisa juga tidak,” ujar pakar gempa Universitas Indonesia (UI) Doktor Abdul Haris saat berbincang dengan okezone di Jakarta, Selasa (19/1/2010).
Haris menyebutkan, di atas kertas gempa berkekuatan besar memang berpotensi terjadi di Pulau Sumatera. Pasalnya, wilayah tersebut masuk dalam zona merah. Namun, terkait kapan dan dimana lokasi persis gempa akan terjadi masih menjadi misteri. “Kalau diprediksi tahun sekian itu tidak bisa,” terangnya.
Terlepas dari prediksi yang bermunculan, Haris menyarankan agar warga Sumatera senantiasa waspada menghadapi adanya gempa berkekuatan besar. Pemerintah setempat juga harus siaga menghadapi bencana yang bisa datang kapan saja. “Kewaspadaan yang harus lebih ditingkatkan. Bagaimana bersikap saat gempa datang serta penanganan pasca bencana,” ujarnya.
Peringatan dari para pakar gempa Eropa mengenai gempa bumi berskala besar di Sumatera ditulis melalui surat yang dikirimkan ke jurnal terkemuka Nature Geoscience. Para ilmuwan itu dipimpin John McCloskey, seorang profesor Institut Penelitian Ilmu Lingkungan dari Universita Ulster, Irlandia Utara.
Para ahli menyebut, bahaya gempa itu datang dari bertambahnya tekanan terus-menerus selama dua abad di bagian paparan Sunda. Paparan Sunda merupakan salah satu zona gempa paling berbahaya di dunia yang membentang sepanjang perairan Sumatera bagian barat. Termasuk bagian itu adalah Kepulauan Mentawai yang berada “di ambang kerusakan”, demikian diperingatkan para ilmuwan.
“Ancaman gempa yang dapat menimbulkan tsunami berkekuatan besar dengan 8,5 Skala Richter (SR) di Mentawai tidak dapat didebat. Ada potensi korban jiwa sama besarnya dengan tsunami Samudra Hindia pada 2004,” demikian pernyataan mereka.
(ful)