JAKARTA - Mabes Polri akan duduk bersama dengan tiga bank nasional, yakni BCA, BNI, dan Permata, untuk membahas sistem keamanan anjungan tunai mandiri (ATM) yang dimiliki masing-masing.
Pembahasan ini terkait banyak tindak kejahatan pembobolan rekening nasabah melalui ATM masing-masing bank yang terjadi belakangan ini. Kasus terakhir terjadi terhadap lima nasabah Bank BCA di Kuta Bali, dengan total kehilangan Rp255,5 juta.
"Tadi saya sudah telpon Kapolda Bali, jadi kita sudah menghubungi tiga bank, BCA, Permata, dan BNI. Yang akan kita lakukan adalah bersama dengan pihak bank, melakukan manajemen audit sistem keamanan dari atm. Ini harus kita audit, kenapa ini bisa terjadi," tutur adiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang, di acara program Zero Toleransi Narkoba di Terminal II, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (20/1/2010).
Kemudian Mabes Polri, dengan pihak bank akan menyampaikan pertanggungjawaban perlindungan nasabah. Hal ini dilakukan agar nasabah tidak dihinggapi kekhawatiran mengenai keamanan penyimpanan dananya.
"Kalau uangnya hilang, ya harus diganti. Karena itu kan bentuk dari resiko. Resiko dari sistem keamanan yang dibangun oleh bank tersebut," terangnya.
Kepolisian akan melakukan pendataan terkait banyaknya nasabah yang pernah dirugikan akibat kejahatan pembobolan rekening melalui ATM tersebut. Sejauh ini, kata Edward, pihaknya baru menerima laporan dari 12 orang nasabah, dan tidak tertutup kemungkinan masih banyak nasabah lainnya.
Walaupun tercatat baru 12 nasabah, dan kerugian masing-masing nasabah belum mencapai Rp100 juta, namun hal ini tidak bisa dibiarkan. Karena menurut Edward, jika kejahatan ini terus berkembang akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap bank.
"Dan ini akan kita imbau kepada bank untuk mengecek setiap ATM, dan kepada nasabah memberi tahu barang kali ada pengurangan simpanannya," tandasnya.
(hri)