getting time...

Ponpes Lirboyo Tuding Depag Tak Paham Islam

Rabu, 20 Januari 2010 16:18 wib
ist
ist

KEDIRI - Penolakan hasil Bahtsul Masail ke-12 oleh Direktorat Jendral Bimas Islam Departemen Agama Nasaruddin Umar, mendapat reaksi keras dari pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

 
Bagi Ketua Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) yang juga pengasuh Ponpes Lirboyo KH Abdul Muid Shohib, penolakan tersebut menunjukkan Dirjen Bimas Islam Depag Nasaruddin Umar tidak paham hukum Islam.
 
Menurut Abdul Muid yang biasa disapa Gus Muid, tidak semestinya seorang Dirjen Bimas Islam mengeluarkan pernyataan provokatif seperti itu. Hal itu memperlihatkan begitu rendahnya kualitas berpikir Nasaruddin dalam memahami forum diskusi dan pemikiran pondok pesantren.
 
“Bagi saya ucapan itu keluar dari orang-orang yang tidak mengerti hukum Islam,” ujar Gus Muid kepada wartawan, Rabu (20/1/2010).
 
Menurutnya, 258 santri dari 46 pondok pesantren se Jawa Timur yang terlibat sebagai peserta Bahtsul Masail adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan dasar hukum yang kuat dalam merumuskan persoalan.
 
Untuk memutuskan itu, menurut Gus Muid, mereka berpatokan pada sumber kitab klasik dan fikih seperti halnya dilakukan para cendikiawan jaman dulu. Karenanya Gus Muid menolak jika keputusan Bahtsul Masail dinilai mengada-ada dan hanya mencari sensasi belaka.
 
“Karena pesantren ini hanya menerima, mengumpulkan, termasuk mencari jawaban adanya persoalan yang terjadi di masyarakat. Jadi semua yang dibahas ini benar-benar ada dan sesuai perkembangan jaman,” paparnya.
 
Mengenai munculnya pro dan kontra di kalangan masyarakat atas keputusan tersebut, menurut Gus Muid sebagai hal yang wajar karena terbatasnya pengetahuan. Dan sebagai sesama umat Islam Dirjen Bimas seharusnya turut mensosialisasikan hasil pemikiran pesantren tersebut.
 
“Dan jika memang tidak sepakat, tentunya bisa diselesaikan dalam forum diskusi. Semua itu ada musyawarah dalam sebuah diskusi,” tegas Gus Muid.
 
Hal senada disampaikan juru bicara Panitia Bahtsul Masail ke-12 Nabil Haroen yang secara tegas menyatakan menolak tudingan Dirjen Bimas yang menilai forum Bahtsul Masail tidak memiliki dasar hukum yang jelas. “Para santri ini adalah insan yang cerdas. Mereka ini tidak asal bicara. Namun ada dasarnya,” pungkasnya singkat.

(Solichan Arif/Koran SI/teb)

  • cah ndeso » 0 Tanggapan
    kehidupan ini bagai bangunan..kalo tiang2nya mulai keropos, tanda dekatnya keruntuhan....asal mani yg menjijikkan akan kembali busuk menjadi tanah...hei manusia cpt sadarlah.. sebelum engkau ditanya apa yg kau ucap...
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Hawe, kaji ndesoa » 0 Tanggapan
    Sing penting tidak dijadikan politisasi, kyai tetep kyai yang selalu mengedepankan hukum agama. Jangan jadi politik, umat biar gak bingung
    Beri Tanggapan Laporkan
  • oneng » 0 Tanggapan
    mudah2 kamu bkn anak dr anggota salah satu partai terlarang yg dulu pernah makar ...bwt yg mengatasnamakan dirinya oneng
    Beri Tanggapan Laporkan
  • oneng » 0 Tanggapan
    mudah2 kamu bkn anak dr anggota salah satu partai terlarang yg dulu pernah makar ...bwt yg mengatasnamakan dirinya oneng
    Beri Tanggapan Laporkan
  • anto » 0 Tanggapan
    itulah fiqih, terserah orang mau setuju apa tidak, suka atau tidak bukan soal, kalau undang2 dibuat manusia tapi kalau fiqih bersumber dari al quran
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.