TEGAL - Pemerintah daerah (Pemda) diminta lebih peka terhadap kenaikan harga beras yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Upaya ini untuk meredam gejolak di masyarakat yang merasakan dampak akibat kenaikan harga tersebut. Saat ini, kenaikan harga beras di pasar tradisional rata-rata mencapai Rp1.000/kg.
"Kalau melihat rakyatnya sudah menjerit, pemda segera minta ke Bulog untuk operasi pasar (OP). Jangan karena daerahnya tidak ada masalah, lalu tidak berani OP. Ini sangat naif kalau ada daerah yang bersikap seperti ini," kata Menteri Pertanian Suswono di sela-sela melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gudang Bulog Procot, Slawi, Kabupaten Tegal, Jumat (22/1/2010).
Menurut dia, kenaikan harga beras ini dipicu beberapa faktor di antaranya faktor psikologis sebagai dampak kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) beras dari semula Rp4.600/kg menjadi Rp5.060/kg.
Selain itu, pengaruh anomali iklim sehingga musim tanam mundur dan cuaca yang menghambat distribusi beras antarpulau. "Datangnya musim hujan dan cuaca buruk beberapa hari terakhir ini juga memengaruhi distribusi beras ke daerah," ujarnya.
Suswono mengatakan, hasil pantauan di beberapa daerah, kenaikan harga beras di tingkat konsumen saat ini rata-rata mencapai Rp1.000 per kg. Kenaikan tersebut baru sekitar 15 persen dari harga normal, namun jika sudah meresahkan masyarakat pemda harus segera melakukan operasi pasar.
"Sesuai aturan kalau kenaikan sudah 25 persen baru OP, tapi kalau di lapangan sudah memberatkan masyarakat segera lakukan OP," tandasnya.
Selain operasi pasar, lanjut Mentan, upaya lain untuk menekan kenaikan harga beras yakni denganpercepat pendistribusian beras miskin (Raskin). Raskin yang semestinya didistribusikan untuk bulan depan, bisa disalurkan bulan ini atau dimajukan satu bulan. "Ini tidak masalah," jelasnya.
(Kastolani/Koran SI/ram)