JAKARTA - Pagi yang mendung terasa berjalan normal di Kompleks Eks Yon Angkub, Cililitan, Jakarta Timur. Penghuni rumah yang akan dikosongkan paksa oleh TNI, Senin 25 Januari lusa tetap beraktivitas biasa.
Para ibu terlihat cekatan mengurus anak mereka di depan halaman rumah. Ada yang menjaga warung kelotongan, ada pula yang sigap membersihkan jalanan sempit di sekitar rumah mereka, Sabtu (23/1/2010).
Seakan tidak ada sesuatu yang terjadi, mereka berbincang santai di antara satu rumah dengan rumah di sebelahnya. Menjelang siang hari, ketika panas matahari agak menyengat, warga berbondong-bondong berkumpul di 'markas' milik Soetrisno. Markas yang ditujukan bagi warga untuk berkonsolidasi menghadapi rencana pengosongan paksa.
Mendadak, ibu paruh baya datang ke markas itu. "Pak Tris, aku lihat di Metro TV, KSAD (TNI AD) sudah ngomong, katanya ini tanah TNI,". Apa yang harus kita lakukan," tanyanya.
Pepen, warga di komplek itu menimpali ringan. "Tanah dia (TNI AD), wong kita bangun sendiri ini rumah," ucapnya.
Soetrisno, koordinator forum musyawarah warga komplek kemudian angkat bicara di hadapan belasan warga yang tengah nimbrung. "Sudahlah, kita sudah ada bukti ini bukan tanah mereka, ini juga bukan rumah dinas yang disediakan."
Entah siapa yang memulai, anak para pejuang angkatan berkuda TNI sekira tahun 60 an ini kemudian mengangkut foto Almarhum ayah mereka ke markas. Ada sekira 8 foto lengkap dengan bingkai kaca yang kusam di antaranya foto Soediman, M. Baidi, Talam dan Rindon. "Ini para penghuninya, mereka pejuang lho mas," kata Pepen kepada okezone.
Mereka sengaja memajang foto itu untuk mengingatkan pengabdian Ayah mereka saat berjuang untuk negara. "Rata-rata bertugas di Irian (kini Papua) dan Timor Timur (kini Timor Leste) tahun 1963," ujar Pepen menambahkan.
Cerita kembali berlanjut, ternyata para pejuang itu menyertakan istri mereka sebagai sukarelawan khusus wanita. Foto barisan wanita berseragam lengkap berwarna hitam putih pun ditunjukkan, untuk menyakinkan perjuangan mereka kala itu. Bahkan, foto itu akan dicetak ulang ke ukuran yang lebih besar yakni 10 R. "Sekalian untuk mengenang," timpal Soetrisno.
Kemarin, puluhan warga komplek menggelar aksi unjuk rasa menolak penggusuran rumah oleh Mabes TNI, di depan pintu masuk kompleks di Jalan Cililitan Besar, Jakarta Timur. Selain berorasi dan membentangkan spanduk, massa juga sempat membakar ban bekas. Spanduk besar bertuliskan 'Di Sini Bukan Rumah Dinas' mejeng di depan pintu masuk komplek.
Dengan suara bulat mereka menentang aksi pengosongan paksa terhadap 66 rumah. Selain status tanah yang tidak jelas, pengorbanan almarhum orang tua mereka saat menjadi tentara menjadi alasan penolakan paksa itu.
Warga juga menyesalkan proses pengosongan rumah hunian yang minim dialog. Padahal, mereka menginginkan pihak Direktorat Pembekalan dan Angkutan TNI AD yang mengirim surat pengosongan bermusyawarah dengan warga. "Sampai saat ini belum ada dialog lanjutan. Soal ganti rugi pun tidak ada," aku Soetrisno.
(fit)