Image

Des Alwi Tentang Chairil Anwar, Dien Tamaela & Pohon Pala

Des Alwi, sahabat Chairil dan Dien semasa hidupnya. (Foto: Rudi Fofid/okezone)

Des Alwi, sahabat Chairil dan Dien semasa hidupnya. (Foto: Rudi Fofid/okezone)

AMBON - Puisi Chairil Anwar berjudul Cerita Buat Dien Tamaela menyimpan banyak cerita. Salah satunya yang baru terungkap adalah kisah tentang pohon pala dalam puisi tersebut.

Chairil memang tidak pernah menginjakkan kaki ke Maluku, apalagi menjelajahi kebun pala. Namun puisinya mengabadikan pala secara penuh daya magis.

Dalam Cerita Buat Dien Tamaela, tercatat tiga kali muncul kata pala. Pertama kali muncul pada bait keempat.

Beta Pattiradjawane, menjaga hutan pala

Beta api di pantai. Siapa mendekat

Tiga kali menyebut beta punya nama.

Lantas, untuk kedua kalinya, Chairil memunculkan pala pada bait kelima.

Dalam sunyi malam ganggang menari

Menurut beta punya tifa,

Pohon pala, badan perawan jadi

Hidup sampai pagi tiba

Pala kembali ditampilkan pada bait ketujuh.

Awas jangan bikin beta marah

Beta bikin pala mati, gadis kaku

Beta kirim datu-datu!

Maluku dengan julukan negeri rempah-rempah, the Spice Islands, begitu identik dengan cengkih dan pala. Dalam urutan penyebutan, lazimnya orang menyebut cengkih barulah pala. Dalam konteks Maluku, cengkih memang lebih dominan. Pohon cengkih lebih gampang ditemukan di banyak pulau ketimbang pala.

Tapi dalam puisi Chairil, dia tidak menggunakan simbolisme cengkih melainkan pala. Hutan pala, pohon pala, dan pala.

Memang, sebagai penyair, Chairil memiliki kemerdekaan kreatif untuk memunculkan apapun. Namun simbolisme pala tidak muncul begitu saja.

Tokoh masyarakat Maluku Des Alwi (82), kepada okezone di Ambon, Selasa 29 Desember lalu, bercerita tentang Chairil Anwar dan Dien Tamaela.

Semasa muda, Des berkawan dengan dua tokoh tersebut. Perjumpaan Des dengan Chairil dan Dien bermula dari rumah Sutan Syahrir di Jalan Damrin Jakarta, yang kini menjadi Jalan Latuharhary.

Sebagai saudara angkat Sutan Syahrir, Des datang dari Bandaneira dan tinggal di rumah Sutan Syahrir. Di rumah itulah, Des berjumpa dengan Chairil. Sebagai sesama orang Padang, Ibunda Chairil yakni Saleha, punya hubungan kerabat dengan Bung Kecil, julukan Sutan Syahrir. Sebab itu Des dan Chairil ditempatkan pada satu kamar yang sama.

"Beta satu kamar dengan Nini. Chairil itu disapa Nini. Katong dua tidur sama-sama," kenang Des.

Di kamar itulah, dua sahabat ini sering terlibat diskusi. Chairil sangat berminat pada kisah-kisah tentang Maluku. Des mengaku selalu bercerita tentang Bandaneira, tentang perkebunan pala, serta juga tentang hal-hal gaib.

"Beta cerita tentang orang-orang alus (makluk halus) dan Nini antusias sekali. Tidak heran puisi Cerita Buat Dien Tamaela menjadi seperti itu," kata Des.

Sedangkan perkenalan dengan Dien juga terjadi karena rumah keluarga dr Tamaela memang tidak jauh dari rumah Sutan Syahrir. Sebagai tetangga, mereka sudah biasa saling berkunjung. Des akui, Chairil memang berkawan akrab dengan Dien. Hanya saja soal hubungan Chairil dan Dien, menurut Des, tidak sampai pada hubungan asmara.

Tapi Des akui hubungan Chairil dan Dien sangat akrab. Hal itu bisa dilihat ketika Dien harus menjalani operasi usus buntu di Yogyakarta, Des dan Chairil jauh-jauh datang menjenguk di rumah sakit. Keduanya bahkan iseng meminta izin dokter agar bisa mengajak Dien jalan-jalan.

"Dokter itu menjawab, tunggu saja kalau Dien sudah bisa kentut," cerita Des sambil tertawa lebar.

Des sendiri sempat menulis pengalaman bersama Chairil dalam sebuah bukunya Friends and Exiles: A Memoir of the Nutmeg Isles and the Indonesian Nationalist Movement yang diterbitkan Cornell University. Des akui, Chairil adalah seorang sosok seniman yang urakan tapi sekaligus mengagumkan.

(hri)
Live Streaming
Logo
breaking news x