getting time...

Impian Picisan Sepakbola Negeri

Fetra Hariandja - Okezone
Selasa, 26 Januari 2010 13:13 wib

SAMPAI kapan mimpi-mimpi itu kita beli? Sampai nanti habis terjual harga diri. Sampai nanti sampai kita tak bisa bermimpi. Sekilas lirik lagu karya Iwan Fals ini mengingatkan kita tentang mimpi sepakbola Indonesia.

Bayangkan, tanpa mampu membukukan prestasi apapun, pengurus sepakbola Indonesia dalam naungan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan para pejabat negara berani bermimpi. Mereka hendaknya malu dengan setiap pernyataan terkait sepakbola.

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora) Andi Alfian Mallarangeng menyatakan dukungannya terhadap kampanye Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Kemudian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku percaya PSSI bisa meningkatkan prestasi di masa depan dan satu saat Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia.

Presiden dan Mennegpora sangat antusias Indonesia bisa tampil dan menggelar Piala Dunia. Pernyataan tersebut terlontar bersamaan dengan singgahnya tropi Piala Dunia di Jakarta dalam dua hari terakhir ini. Sikap euphoria berlebihan tentang sepakbola Indonesia.

Begitu pula dengan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan jajarannya, yang hingga kini publik tidak tahu apa yang sebenarnya dikerjakan untuk sepakbola Indonesia. Anehnya, dalam berbagai kesempatan Nurdin menolak dipersalahkan terkait buruknya prestasi sepakbola Tanah Air.

Sepanjang 2009 lalu, sepakbola Indonesia menjadi bulan-bulanan media massa dan cibiran masyarakat. Bayangkan, Indonesia yang diklaim PSSI memiliki kompetisi hebat harus mengakui ketangguhan Laos 0-2 pada babak penyisihan SEA Games lalu. Ini kenyataan yang sangat memalukan. Apalagi, Laos tidak pernah terpikir mampu mengalahkan Indonesia.

Coreng hitam di wajah putra-putri Pertiwi belum terhapus. Sepakbola Indonesia kembali memberikan hadiah yaitu tersingkir dari ajang Piala Asia 2011. Indonesia gugur lebih awal di babak kualifikasi.

Jadi, stop lah bermimpi menggelar kompetisi sekelas Piala Dunia. Lebih baik, para pemimpin bangsa ini fokus menyelesaikan masalah merosotnya moral bangsa (korupsi, kolusi, nepotisme) sebelum menyusun impian besar. Buruknya moral bangsa juga menular ke bidang lain termasuk olahraga.

Buktinya, PSSI tebal muka menghadapi berbagai kritik. Bukan mengaku tidak mampu meningkatkan prestasi Indonesia, PSSI justru mencari kambing hitam atas setiap kegagalan Indonesia. "Lawan lebih baik. Anak-anak kurang fokus". Begitulah alasan murahan yang selalu disampaikan setiap sepakbola Indonesia gagal.

Bila pengurus PSSI dari tingkat bawah hingga rendah memiliki jiwa ksatria dan merasa sebagai laki-laki, maka meletakkan jabatannya dari kepengurusan merupakan pilihan tepat. Beri kesempatan anak bangsa lainnya membangun prestasi sepakbola Indonesia.

Bahkan ketika ditanya masalah apa sebenarnya menghinggapi sepakbola Indonesia sehingga sulit berprestasi, Nurdin malah balik bertanya.

"Tolong jangan tanya saya kenapa timnas kalah terus. Tapi kasih tahu saya bagaimana cara timnas menang." Apakah pantas pernyataan tersebut keluar? Kemudian apakah mampu Nurdin Halid cs membawa Indonesia berprestasi?

Jawabannya, sampai nanti sampai kita tak bisa bermimpi. Sebelum tidak bisa bermimpi, bersikaplah ksatria wahai jagoanku...
(fmh)

Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.