getting time...

Program 100 Hari Menkes

Banyak Dokter Nakal Permainkan Resep Generik

Jum'at, 29 Januari 2010 07:03 wib
Ilustrasi (ist)
Ilustrasi (ist)

JAKARTA - Program 100 hari pemerintah khususnya di bidang kesehatan, tampaknya belum sepenuhnya terlaksana. Sebagai contoh, masyarakat hingga kini masih kesulitan mendapatkan resep obat murah (generik).

Banyak dokter-dokkter nakal--tak terkecuali di rumah sakit pemerintah--yang sengaja “menodong” pasiennya dengan resep obat paten, meski penyakit yang diderita si pasien masih memungkinkan ditanggulangi dengan penggunaan obat generik.

Kenyataan ini ditemukan langsung di lapangan saat tim RCTI mencoba melakukan investigasi di sejumlah rumah sakit pemerintah di Jakarta dan sekitarnya.

Rumah sakit pertama yang tim datangi adalah rumah sakit besar milik pemerintah di Jakarta. Tim mencoba menyamar sebagai pasien dengan keluhan perut kembung.

Setelah membayar biaya pendaftaran sebesar Rp40 ribu, tim ikut mengantre bersama pasien lainnya dengan memakan waktu sekira 15 menit menunggu giliran. Kepada dokter, kami mengaku mengalami gangguan perut kembung, lantas sang dokter membuat resep dan kami tebus di apotek setempat. Biayanya hanya Rp12 ribu untuk dua buah jenis obat generik yang diresepkan.

Tim selanjutnya mencari tahu apakah pemberian obat generik juga dilakukan oleh dokter di rumah sakit lain, masih milik pemerintah di kawasan Jakarta Barat. Untuk membuktikannya tim kembali mengaku sebagai pasien dengan keluhan yang sama (perut kembung).

Di rumah sakit ini dokter memberikan tiga macam obat dengan total harga yang fantastis, Rp100.600. Apakah ketiga jenis obat yang diresepkan ini sama-sama obat generik? Tim pun bertanya kepada apoteker yang berjaga.

"Ada obat generiknya enggak?" tanya kami. "Itu (resep) paten semuanya Pak," jawab seorang apoteker RSUD tersebut.

Obat dari rumah sakit tersebut, lantas tim bawa ke salah satu apotek. Ternyata salah satu obat yang diberikan adalah obat paten, yang sejatinya bisa diganti dengan obat generik. Salah satu obat paten untuk mual atau perut kembung berbanderol Rp14.162 sebutirnya, sementara obat generik dengan khasiat yang sama, hanya seharga Rp521. Sehingga bila menggunakan obat generik, pasien bisa menghemat hampir Rp70 ribu.

Bagaimana dengan rumah sakit di luar Jakarta? Tim pun mencoba mendatangi sebuah rumah sakit pemerintah di Bandung, Jawa Barat. Di rumah sakit pemerintah ini, dokter memberikan resep untuk tiga macam obat yang harus tim tebus dengan harga Rp165 ribu, masih untuk penyakit perut kembung.

Ternyata, dua dari tiga macam obat yang diberikan adalah obat paten. Jika dua obat paten itu diganti dengan obat generik, pasien bisa menghemat hampir Rp100 ribu, karena salah satu obat paten yang diberikan harganya Rp14 ribu per butir, sementara generiknya hanya Rp2.200 per butir.

Dari hasil penelusuran tim di tiga rumah sakit ini membuktikan bahwa program 100 hari Menteri Kesehatan tentang obat generik, ternyata belum sepenuhnya dilaksanakan. Padahal pemberian resep obat generik ini sudah diprogramkan sejak era Presiden Soeharto belasan tahun silam. (ded)

(RCTI/RCTI/ahm)

  • dinda » 0 Tanggapan
    sebaiknya kalau pasen jamkesmas diberi resep oleh dokter dirumah sakit, bila diapotek RSU tidak tersedia obatnya jangan disuruh membeli keapotek luar, tapi tetap tanggung jawab RSU tersebut
    Beri Tanggapan Laporkan
  • ruby » 0 Tanggapan
    jangan berprasangka teruslah sama dokter, nggak bakalan sembuh kalau belum2 anda sudah tidak percaya pada dokternya. kalau dokternya maksa ngasih obat paten padahal ada obat generiknya dan pasien sudah minta obat generik berarti dokternya memang melanggar. saya setuju dengan melati seperti di belanda, tarif konsultasi dokter minimal setara 1 juta perpertemuan jadi memang buat apa beli racun mahal-mahal, mendingan buat bayar konsultasi sama dokter sampai puas
    Beri Tanggapan Laporkan
  • melati » 0 Tanggapan
    Apotheknya kan harus beri dokternya uang pelancar sebagai imbangan pemasaran obatnya. DepKes harus membatasi obat2 patent mahal yg beredar. Di Belanda aja kita semua dapat obat generik, buat apa beli racun/ obat mahal2.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • iklil Fuadi » 0 Tanggapan
    jaman SKG gt, mau jadi dokter aja masuk kuliahnya udah mahal (ya 100-200 jt), klo udah jadi dokter ya mesti balikin modal! namanya juga usaha.....
    Beri Tanggapan Laporkan
  • prihatin » 0 Tanggapan
    saya justru prihatin karena berita ini memiringkan kenyataan bahwa adalah hak dokter untuk meresepkan obat. Yang dokter tersebut lakukan tidak salah, kalau pasiennya sudah meminta obat generik tapi dokternya masih memaksa menulis paten barulah dokter melanggar. Jangan langsung menimbulkan isu bahwa dokter tersebut "nakal" kalau kenyataannya tidak demikian. sungguh tidak profesional.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.