JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang diminta mengedepankan manajerial organisasi.
Menurut Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, tipe manajerial sangat penting untuk pimpinan PBNU karena semakin lama NU semakin maju dan menghadapi banyak tantangan. Karena itu, PBNU periode mendatang harus dipimpin ketua umum yang mengerti manajemen.
Dia mengungkapkan, kader NU juga semakin banyak yang berhasil sehingga manajerial organisasi perlu dikedepankan. “Saya berharap Ketua Umum (PBNU) bertipe manajerial, ngga perlu ngaji (pengajian) di mana-mana. Kalau ngaji itu urusan syuriah (dewan penasihat),”papar
Hasyim di Jakarta kemarin.
Seperti diketahui, Muktamar NU ke-32 akan dilaksanakan di Makassar pada Maret mendatang. Salah satu agenda dalam Muktamar tersebut adalah memilih Ketua Umum Tanfidziah PBNU menggantikan Hasyim Muzadi.
Hasyim sendiri telah menjadi Ketua Umum sejak 1999. Sementara itu, Mustasyar PBNU KH Muchit Muzadi lebih menekankan kepemimpinan NU ke depan dengan pijakan jam’iyah diniyah sebagai garapan utama.
“Sampai kapan pun, NU harus tetap menjadi jam’iyah diniyah. Karena itu, siapa pun yang menjadi ketuanya, harus bisa mengembangkan garapan itu secara maksimal dan tidak memberikan porsi lebih besar kepada faktor-faktor di luar itu,” ujar Mbah Muchit di Jember kemarin.
Untuk bidang politik bisa digarap seperlunya saja.Sebab tugas mendasar adalah melakukan
pengembangan bidang diniyah. “Sebaiknya hanya orang-orang yang memiliki keinginan dan komitmen kediniyahan yang dijadikan pimpinan NU. Jika tidak memenuhi unsur itu, kalau saya yang tidak memilih,”ujarnya.
Menurut dia,perjalanan NU ke depan harus berjalan dan diatur dalam koridor ahlus sunnah waljamaah. Karena itu, orang-orang yang pemahamannya menyimpang dari garis itu tidak boleh memimpin NU.
(Koran SI/Koran SI/ram)