getting time...

NEWS » Fokus

Atlet Kaya (1)

Mengolahraga, Menangguk Harta

Senin, 1 Februari 2010 13:41 wib
Roger Federer (Foto: Reuters)
Roger Federer (Foto: Reuters)

DAYA tarik kapitalisme mulai mengaburkan makna fundamental olahraga, ”citius-altiusfortius” atau lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat, yang selama lebih dari satu abad menjadi roh para atlet mengarungi kerasnya persaingan. Filosofi yang dulu membuat olahraga berwajah humanis, kini mengalami desakralisasi. Reduksi makna secara sistematis dan terstruktur yang terjadi pada olahraga itu, perlahan dan pasti telah menjadikan uang sebagai faktor penting munculnya prestasi.

Dengan uang, orang-orang muda di seluruh penjuru bumi berlomba-lomba menempa fisik dan mental untuk menggapai mimpi menjadi selebritis kelas dunia lewat olahraga. Kemilau dolar, euro, pounds, hingga rupiah membuat banyak orang berusaha keluar dari kemiskinan yang mendera dengan berusaha menjadi atlet profesional. Efeknya pun terasa dahsyat mengingat olahraga kini telah berevolusi menjadi pekerjaan yang sangat menjanjikan secara finansial maupun popularitas.

Dari kawasan Asia, misalnya, lahir sosok petinju luar biasa dalam diri Emmanuel ‘Manny’ Pacquiao. Idola Filipina yang mendapat julukan Pac Manitu menjelma menjadi olahragawan paling mengejutkan di kolong langit pada beberapa tahun terakhir. Lima gelar juara dunia pada lima kelas berbeda plus mengalahkan petinju-petinju top dunia macam Oscar de la Hoya, Ricky Hatton, Juan Manuel Marquez, Marco Antonio Barrera,hingga Erik Morales menjadikan Pacquiao miliarder baru.

Dalam daftar atlet paling kaya yang dirilis Forbes pada Desember 2009, kekayaan pria kelahiran 17 Desember 1978 itu melonjak sangat signifikan. Kemenangan beruntun atas De la Hoya dan Hatton yang menyedot jutaan pasang mata di televisi pay per view (bayar per tayang) maupun teresterial menjadikan Pacquiao mengantongi pendapatan lebih dari USD40 juta (sekira Rp375 miliar). Jumlah sebesar itu menjadikan petinju kidal tersebut atlet paling kaya di Benua Kuning.

”Setelah era Mike Tyson, Lennox Lewis, dan Evander Hollyfield berakhir, kini industri tinju beralih ke kelas menengah. Dan, dunia sangat beruntung memiliki Pacquiao,” papar Daniel Petrocelli, pengacara Pacquiao, kepada BBC Sports. Seperti halnya Pacquiao, uang juga mengalir sangat deras ke kantong atlet-atlet berprestasi lain. Seperti banjir di musim hujan, gelontoran uang segera memenuhi rekening pemuda-pemuda AS begitu kontrak profesional sebagai maestro bola basket ditandatangani dengan klub-klub NBA.

Jika pada dekade 1990-an Michael Jordan menjadi sosok yang fenomenal dengan bayaran selangit, kini predikat itu menjadi milik LeBron James, Kobe Bryant, Dirk Nowitzki, Pau Gasol, hingga pahlawan China Yao Ming. Dengan USD33,9 juta, Kobe tetap konsisten menjadi superstar NBA yang menyandang predikat terkaya. Sepanjang 2009, pointguardandal Los Angeles Lakers itu mendapat penghasilan USD1 juta lebih banyak dari James (Cleveland Cavaliers).

Uniknya, keterlibatan Kobe dan James di arena basket terjadi lewat proses yang tidak normal. Berbeda dengan kebanyakan pebasket NBA yang melewati jalur NCAA (kompetisi universitas), Kobe dan James langsung bergabung selepas mengantongi ijazah SMU. Tidak hanya arena tinju dan basket, uang juga mengalir deras ke kantong para pesepak bola papan atas dunia.

Statistik menunjukkan, USD131 juta yang diberikan Real Madrid kepada Manchester United (MU) pada pertengahan 2009 menjadikan Ronaldo pesepak bola termahal di kolong langit. Sayang, karena pamor Beckham sebagai ikon sepak bola Inggris yang telah terbentuk sejak awal abad ke-21, CR9 bukanlah pesepak bola dengan pendapatan paling besar. Dengan pemasukan USD46 juta, Beckham tercatat oleh Forbes sebagai pemain dengan pendapatan paling besar.

Pernikahan dengan mantan personel Spice Girls Victoria Adams menjadikan Beckham tidak hanya mendapat pendapat dari lapangan hijau, melainkan juga catwalk, pemotretan, busana, iklan produk komersial, hingga penampilan-penampilan di televisi. Keputusan Beckham meninggalkan Madrid dan tampil di LA Galaxy ternyata juga tidak mampu menyurutkan pamornya. ”Sepanjang karier profesional, saya tidak pernah memikirkan berapa jumlah uang yang akan diterima. Saya bersedia bermain di sebuah klub karena memang yakin dengan prestasi yang akan saya torehkan. Jadi, saya tidak akan pernah membela Man City meski ditawari banyak uang. Sebab, MU akan selalu lebih besar dari Man City,” ujar Beckham, saat menolak tawaran Man City, kepada Times Online. Di bawah Beckham, pendapatan Ronaldinho tetap tak tergoyahkan, meski dua musim terakhir tampil sangat buruk bersama Barcelona dan Milan. Dengan pendapatan sebesar USD33 juta, bintang Brasil itu jauh meninggalkan Messi yang hanya mendapatkan USD18 juta.

Namun, berapa pun bayaran yang diterima pesepak bola dunia, bintang-bintang NBA, maupun para pembalap Formula 1, golf dan tenis tetaplah menjadi olahraga yang paling banyak membuat atletnya bergelimang uang. Dengan pendapatan mencapai USD115 juta, Forbes menobatkan Tiger Woods sebagai atlet paling kaya di kolong langit. Pria berkebangsaan AS keturunan Thailand itu mendapat USD70 juta dari uang hadiah maupun fee bermain golf. Sisanya, berasal dari berbagai macam kontrak produk-produk komersial.

Seperti Woods, Roger Federer, Rafael Nadal, maupun Maria Sharapova yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir merajai tennis court juga bergelimang uang. Kerja keras Federer selama bertahun-tahun mampu menghasilkan setidaknya USD35 juta. Bahkan, dengan USD26 juta, si jelita Sharapova menyandang predikat atlet putri paling kaya versi Forbes. Pendapatan ratu tenis Rusia itu kemungkinan akan bertambah karena menjelang Grand Slam Australia Terbuka, Nike telah menawari kontrak USD70 juta selama delapan tahun.

”Saya menjanjikan tahun ini saya akan sangat bergairah menjalani turnamen. Saya dalam kondisi bagus dan fit untuk kembali menjadi petenis yang merebut banyak gelar di turnamen. Saya harap motivasi itu akan menjadi bekal bagus menatap musim ini,” papar Sharapova, seusai penandatanganan kontrak sponsor dengan Nike.
(Koran SI/Koran SI/mbs)