getting time...

Kajari Sukoharjo Lecehkan Wartawan Difabel

Selasa, 2 Februari 2010 03:07 wib

SUKOHARJO - Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sukoharjo Kardi dianggap melecehkan kaum difabel yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan. Seperti yang dialami Beny Surya, kontributor televisi lokal Solo.
 
Pelecehan ini terjadi di ruang Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Sukoharjo. Saat itu, Beny Surya bersama wartawan media cetak dan elektonik lainnya bermaksud mengonfirmasi soal upeti yang terjadi di Dinas Pendidikan Sukoharjo.
 
Pada saat itu, Kardi masuk ke dalam ruangan dimana wartawan tersebut berkumpul dan bersalaman dengan semua wartawan. Namun,saat hendak bersalaman dengan Beny Suryo, Kardi memperhatikan tangan Beny.
 
Kondisi fisik Beny Surya diketahui tidak sempurna.
 
Sepontan, kardi langsung mengucapkan kata-kata, amit-amit semoga anaknya yang hamil nanti tidak cacat. Semula, kalimat yang dilontarkan Kardi tersebut hanya sebatas bercanda. Namun, kalimat tersebut justru diulang berkali-kali oleh Kardi tanpa rasa senyum sedikitpun sambil terus menatap kelima jari tangan Beny.
 
Saat itu, Kardi juga meminta Beny agar mencubitnya karena dianggap tidak akan sakit. Kemudian, Beny mencubit lengan kiri Kardi. Namun, saat wartawan hendak keluar ruangan tersebut karena akan digunakan untuk memeriksa salah satu guru bersertifikasi, Kardi kajari berkata Tangan punter.
 
Saat mengucapkan kalimat tersebut, wajah Kardi sangat serius dan tidak menunjukkan bahwa itu dalam rangka bercanda.
 
Atas penghinaan tersebut Ketua Forum Komunikasi Wartawan Sukoharjo (FKWS) Sutarmin sangat menyayangkan ucapan Kardi pada salah satu wartawan. Menurut dia, apapun alasannya kapasitas bercanda atau bergurau kalau pernyataan itu diucapkan pejabat negara sekelas Kajari, jelas tidak pantas.
 
"Hari ini, kami mengirimkan surat ke Kejati Jawa Tengah dengan tembusan Kajari, Polres, PWI, AJI dan forum wartawan di Solo," terang Tarmin.
 
Yang jelas, FKWS menuntut agar Kajari Sukoharjo Kardi meminta maaf secara terbuka di media kepada Beny Surya dan FKWS.
 

(Bramantyo/Trijaya/lam)

  • jhoreis » 0 Tanggapan
    sudah menjadi hal yang terbiasakan klau wartawan tu pinter nyari berita, tapi jarang yang ointer mencari dan mempelajari akhlak yg baik....smoga buat para teman2 jurnalis indonesia bisa menjadi manusia yg berakhlaq...amin
    Beri Tanggapan Laporkan
  • No One Knows » 0 Tanggapan
    Lhoalah, lha koq mulutnya "clamitan". . . Penting ya mulutnya kayak gitu??
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Kamasena » 0 Tanggapan
    Itulah manusa, ada kurang dan lebihnya. Kajari juga manusia, wartawan juga manusia.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Kamasena » 0 Tanggapan
    Itulah manusa, ada kurang dan lebihnya. Kajari juga manusia, wartawan juga manusia.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Junet Kaswoto » 0 Tanggapan
    Mungkin saja maksudnya gurauan, ada bagusnya permintaan maaf itu dilakukan dan untuk instropeksi sang kajari agar sebelum menyampaikan sesuatu itu dipikirkan dahulu
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.