JAKARTA – Tahun ini ditargetkan 500.000 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) akan diberangkatkan ke lebih dari 42 negara.
Kepala Biro Perencanaan Badan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Agusdin Subiantoro mengatakan, untuk mencapai target tersebut pihaknya akan mendorong tiga pola kerjasama pemberangkatan dan penempatan buruh migran.
Ketiga sistem tersebut yakni kerjasama antara pemerintah (G to G), kerjasama pemerintah dengan swasta (G to P) dan kerjasama antara swasta (private) (P to P). Dilingkup daerah, BNP2TKI juga akan meningkatkan koordinasi dengan dinas dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) terkait.
Tahun lalu, tambah Agusdin, ada 42 negara tujuan penempatan buruh migran asal Indonesia. Tahun ini dengan peningkatan sebanyak 84 persen maka negara penempatan akan ditambah ke Kanada, Amerika, dan Uni Eropa serta kawasan disekitar Afrika.
“Kita akan melakukan ekspansi kesejumlah Negara,” terangnya, Kamis (4/2/2010).
Berdasarkan data BNP2TKI, peluang kerja ke Negara-negara tujuan penempatan baru tersebut yakni untuk posisi nurse, caregiver,careworkers,perkapalan, welder fishing, manufaktur dan konstruksi, jasa rumah sakit, therapis spa, tenaga pengamanan, oil driller dan ahli kimiawi. Hingga 2015 nanti, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan di Negara-negara ini mencapai 4.035.484 orang.
Dirinya menjelaskan, tenaga kerja asal Indonesia dari sektor informal atau yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga masih merajai porsi pemberangkatan. Pada 2009, TKI informal tercatat sebanyak 178.022 jiwa atau mencapai 67 persen. Sedangkan, TKI formal atau yang bekerja di perusahaan-perusahaan hanya tercatat sebanyak 93.093 jiwa atau 33 persen dari total penempatan tahun lalu.
Ketika ditanya bagaimana meningkatkan TKI formal, Agusdin menjawab hanya dengan pola kerjasama G to G peningkatan itu bisa dilaksanakan.
Dirinya juga mengakui, kalaupun Indonesia telah menempatkan TKI di 42 negara akan tetapi yang sudah menerapkan pola G to G adalah pada penempatan Jepang dan Korea. “Target penerimaan TKI formal tahun ini 45 % atau 225.000 sementara informal 55 % atau 275.000 jiwa,”
jelasnya.
(Neneng Zubaidah/Koran SI/teb)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan