MADIUN - Tiga waduk besar yang ada di wilayah Kabupaten Madiun mengalami pendangkalan cukup parah. Waduk Notopuro yang terletak di Kecamatan Pilangkenceng mengalami pendangkalan 2-3 meter dari sebelumnya.
Begitu pula, kondisi Waduk Dawuhan yang terletak di Kecamatan Wonoasri mengalami pendangkalan sekitar 1,5 meter. Sedangkan, Waduk Saradan yang terletak di Kecamatan Saradan mengalami pendangkalan 1-2 meter.
Kondisi demikian membuat fungsi waduk yang menampung air pada musim hujan tidak bisa maksimal. Sebaliknya, pada musim kemarau, persediaan air waduk cepat habis sehingga tidak bisa maksimal menyediakan air irigasi untuk areal persawahan.
Dari pantauan, pendangkalan yang terjadi di Waduk Notopuro yang terletak di Desa Duren, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, kondisinya paling parah. Pada awalnya, kedalaman Waduk Notopuro itu sekitar 7-8 meter.
Namun kini, terjadi pendangkalan hingga 2-3 meter. Sehingga, kedalaman waduk saat ini hanya sekitar 5-6 meter. Endapan lumpur dan tanah terlihat di sepanjang bentangan waduk seluas 2.444 hektare tersebut.
Menurut Sukiran, warga Desa Duren, Waduk Notopuro yang dibangun pada 1941 itu belum pernah dilakukan pengerukan sejak tahun 1999. Pendangkalan ini terjadi karena banyaknya lumpur dan ranting pohon yang terbawa arus sungai dan masuk ke dalam waduk.
“Lama kelamaan, lumpur, ranting, dahan, dan material lain yang masuk ke waduk ini mengendap dan menyebabkan terjadinya pendangkalan,” ujarnya, Minggu (7/2/2010).
Waduk Notopuro ini merupakan salah satu pemasok kebutuhan air untuk areal persawahan di 18 desa di wilayah Kecamatan Pilangkenceng, Wungu, dan Balerejo.
Kapasitas aliran dari waduk melalui saluran irigasi mencapai 300-400 liter per detik. “Hanya saja, karena airnya masih sedikit, pintu air untuk aliran irigasi persawahan belum dibuka. Akibatnya, petani yang membutuhkan air irigasi dari Waduk Notopuro juga belum bisa dapat,” ujar Musiran.
Kondisi serupa juga terjadi di Waduk Dawuhan yang terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. Waduk seluas 1.273 hektare yang berada di bawah lereng Gunung Wilis ini mengalami pendangkalan sekitar 1,5 meter dari sebelumnya.
Material lumpur, ranting, daun, dan dahan yang dibawa dari aliran sungai masuk ke waduk dan menyebabkan terjadinya pendangkalan. Kondisi demikian juga menyebabkan daya tampung waduk berkurang dari sebelumnya.
Menurut Jaidi, petugas pintu air Waduk Dawuhan, karena terjadi pendangkalan, air di Waduk Dawuhan cepat penuh pada saat terjadi hujan di daerah lereng Gunung Wilis dan sekitarnya. “Ketinggian air saat ini mencapai 8-9 meter,” ujarnya.
Pada musim hujan, air di Waduk Dawuhan ini cepat penuh. Namun, pada musim kemarau, warga yang tinggal di sekitar waduk ini paling sering mengalami krisis air bersih. Pendangkalan waduk yang cukup parah ini menjadi salah satu pemicu kesulitan penyediaan air bagi warga sekitar.
Dalam kondisi normal, air Waduk Dawuhan ini bisa mengalir ke areal persawahan yang ada di 9 desa di tiga kecamatan. Yakni, Kecamatan Wonoasri, Balerejo, dan Madiun. Dengan luas areal irigasi mencapai 2.823 hektare.
Kondisi Waduk Saradan yang berada di dekat kawasan hutan wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Saradan juga tidak jauh berbeda. Waduk yang berada di areal seluas 990 hektare itu mengalami pendangkalan sehingga tidak maksimal menampung air pada saat musim hujan.
Selain banyak material lumpur dan ranting yang mengendap di dasar waduk, pendangkalan ini juga terjadi karena usia waduk yang sudah cukup tua.
Sementara itu, menurut Bupati Madiun, Muhtarom, beberapa waduk yang mengalami pendangkalan itu memang seharusnya dikeruk atau dikeduk sehingga bisa berfungsi normal seperti sebelumnya. Hanya saja, kata dia, biaya untuk pengerukan atau pengedukan waduk itu tidak sedikit.
“Kami saat ini masih mengajukan anggaran ke pusat untuk biaya pengedukan waduk itu. Kalau disetujui maka beberapa waduk yang mengalami pendangkalan itu segera dikeduk,” ujarnya.
(Muhammad Roqib/Koran SI/ram)