getting time...

Ribuan Rumah di Sulsel Terendam Banjir

Andi Aisyah - Okezone
Senin, 8 Februari 2010 02:11 wib

MAKASSAR - Ribuan rumah di Delta Buabua, Kelurahan Benteng Utara, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel, terendam banjir. Selama tujuh jam warga di tiga lingkungan itu harus merelakan rumah mereka terendam air setinggi 50 cm hingga satu meter.

Menurut Indra Jaelani, tokoh setempat, banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama tiga hari tiga malam. Air pun dalam waktu yang sangat cepat masuk ke rumah-rumah penduduk hingga setinggi lutut.

“Kami tidak sempat menyelamatkan barang-barang dalam rumah karena air datang tiba-tiba. Kalau di jalan raya air mencapai hingga satu meter lebih dengan arus cukup deras,” terang Indra kepada okezone, Minggu (7/2/2010).

Indra mengatakan, sebanyak tiga lingkungan terendam air. Lingkungan itu adalah Lingkungan Buabua Baru, Lingkungan Buabua Timur dan Lingkungan Mangara Bombang. Menurutnya, banjir ini terjadi karena adanya penyempitan sungai akibat aktifitas penimbunan. Banjir juga terjadi karena pembabatan hutan mangrove (bakau) seluas dua hektar.

“Padahal selama ini hutan itu adalah daerah resapan air hujan yang mengarah ke laut melalui muara sungai,” ujar Indra.

Menurut dia, ada dua sungai yang mengapit Delta Buabua sebelah kanan dan kiri. Sungai sebelah kiri awalnya selebar sekira 20 meter. Namun saat ini tinggal tersisa dua meter karena sebagian ditimbun untuk pembangungan jalan raya. Alhasil, sekarang tinggal sungai sebelah kanan Delta yang menjadi resapan air.

Banjir, lanjut Indra, memang pernah terjadi pada 1994 silam. Itupun karena saat itu hutan mangrove belum seluas yang pernah ditebang saat ini. “Sekarang kami khawatir banjir lebih besar lagi akan kembali terjadi. Sebab mangrove yang selama ini berfungsi sebagai penahan abrasi dan tempat resapan air sudah tidak ada lagi karena ditimbun oleh oknum pengusaha,” kata Indra.

Sementara itu Presidium Komunitas Peduli Lingkungan Selayar Asrahiyah Abubakar mengaku telah menduga banjir seperti ini akan terjadi. Pasalnya hutan bakau yang selama ini menjadi daerah resapan air telah dibabat demi kepentingan segelintir orang.

"Seorang pengusaha telah membabat hutan itu dan akan dijadikan tempat usaha. Padahal itu adalah tanah tumbuh merupakan tanah negara,” kata Asrahiyah.  

(ded)