Ilustrasi pengosongan paksa rumah dinas (Foto: Heru H/okezone)
JAKARTA - Warga Kompleks Perumahan TNI, Jalan Otista III, Jakarta Timur merasa dirugikan, lantaran rumah yang mereka tempati selama ini diklaim sebagai rumah dinas.
Pasalnya, selama 50 tahun menempati rumah itu, mereka kerap merogoh kocek sendiri untuk merenovasi dan merawat rumah tersebut.
Hal ini diungkapkan Ibu Marto, warga yang telah tinggal selama lebih dari 50 tahun di salah satu rumah di kompleks tersebut.
“Apakah ini disebut rumah dinas. Dahulu saya dapat cuma rumah dengan satu kamar, satu kamar mandi, satu dapur. Saya pasang PAM sendiri, renovasi sendiri, tidak ada bantuan dana,” ungkapnya di atas panggung yang sengaja didirikan di lokasi, Senin (8/2/2010).
Dia menambahkan, dirinya sangat sedih dan prihatin dengan adanya pengosongan paksa yang dilakukan. “Saya prihatain pada sikap bapak penguasa yang ingin mengosongkan rumah kami. Banyak pejuang yang tinggal di sini, banyak yang sudah meninggal pula tidak ada penghargaan sama sekali,” tuturnya.
Rencananya, pengosongan rumah ini dimaksudkan untuk diberikan ke para prajurit yang masih aktif. “Apa tidak ada jalan lain yang bisa diambil negara selain mengusir kami ini,” tandasnya.
Pantauan okezone di lokasi, saat ini sedang berlangsung orasi damai di atas panggung yang sengaja didirikan sejak pagi tadi. Acara orasi damai itu dibuka dengan menyanyikan lagu perjuangan.
Tampak para warga mengenakan pakaian serba hitam dengan dilengkapi ikat tangan berwarna putih.
“Pita putih ini maksudnya kita cinta damai. Kita maunya damai, tidak usah secara paksa kan bisa berunding,” ujar Budi, koordinator penghubung warga dengan media.
Siang ini eksekusi kedua terhadap lima rumah di Kompleks Perumahan TNI, Jalan Otista III, Jakarta Timur, akan kembali dilanjutkan. Warga mulai menutup akses jalan menuju kompleks membangun panggung untuk berorasi.
Sebelumnya, pada 22 Desember tahun lalu, tiga rumah lebih dahulu dikosongkan secara paksa oleh pihak TNI AD. Saat pengosongan rumah yang hanya berjarak empat rumah dari kediaman Wagub DKI Prijanto itu, warga terlibat bentrok dengan ratusan aparat TNI yang diturunkan ke lokasi.
Pihak TNI beralasan pengosongan ini dilakukan sebagai langkah pemurnian rumah dinas TNI AD, pasalnya banyak rumah dinas yang sudah tidak ditempati prajurit aktif melainkan hanya para anak-anak purnawirawan.
(lsi)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan