BANDUNG - Pengusaha di Kabupaten Bandung diperkirakan menderita kerugian hingga Rp6 miliar akibat banjir yang melanda Kabupaten Bandung, sejak 3 minggu lalu. Jumlah kerugian tersebut diperoleh dari 400 pengusaha Kabupaten Bandung, baik kecil, menengah, maupun besar.
"Dalam sebulan omzet pengusaha di Kabupaten Bandung mencapai Rp30 miliar per bulan. Ya, diperkirakan kerugian 20 persen dari omzet setiap bulan," kata Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha Indonesia
(Apindo) Kabupaten Bandung, Yohan Lukius, Senin (8/2/2010).
Yohan mengatakan, selain kerugian dari omzet, terhitung sejak bulan ini hingga 3 bulan ke depan, Apindo juga harus merogoh kocek sebesar Rp500 juta setiap bulan untuk ongkos tambahan lembur. Pasalnya, kata dia, sejak banjir melanda kabupaten, akses jalan tertutup sehingga membuat pegawai datang terlambat.
"Untuk menunggu shift kedua, para pegawai ditahan di pabrik. Shift kedua terlambat datang karena terjebak banjir. Untuk menahan pegawai tersebut, dibutuhkan uang lembur tambahan," kata Yohan.
Lebih jauh Yohan mengatakan, jalur produksi selama banjir sebetulnya tidak terganggu. Soalnya, kata dia, banjir tidak sampai merendam pabrik-pabrik yang ada di Kabupaten Bandung.
"Mengganggu sih tidak, paling karyawan saja banyak yang telat masuk karena terhadang banjir," kata Yohan.
Sebelumnya diberitakan, hujan deras yang mengguyur wilayah Bandung sejak tiga minggu lalu membuat dua kelurahan di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung terendam banjir. Akibatnya, sekira 5.281 warga terisolasi. Mereka hanya mengandalkan perahu sebagai satu-satunya sarana transportasi.
Dua kelurahan yang terendam banjir tersebut adalah Kelurahan Andir dan Baleendah Kecamatan Baleendah. Di kelurahan Baleendah, banjir merendam 3 RW masing-masing RW 9, 20, dan 28. Sementara di Kelurahan Andir, banjir melanda 7 RW masing-masing RW 1,2,3,6,7,9, dan 10.
(fit)